Jumat, 09 November 2012

komunikasi kelompok


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Di dalam makalah ini mencakup komunikasi kelompok dan organisasi. Komunikasi kelompok merupakan interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Sedangkan komunikasi organisasi merupakan pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi. Dan masih banyak yang lain yang berhubungan dengan komunikasi kelompok dan organisasi. Maka dari itu di dalam makalah ini membahas lebih mendalam tentang komunikasi kelompok dan organisasi
Kelompok dan organisasi merupakan struktur, yang dapat diinterpretasikan sebagai aturan-aturan dan sumber daya organisasi. Struktur-struktur ini sebagai gantinya, menciptakan sistem sosial di dalam organisasi.
Teori penstrukturan adaptif didasarkan pada pemikiran sederhana bahwa kegiatan manusia merupakan sumber yang menciptakan dan menciptakan kembali lingkungan sosial dimana kita berada. Giddens (1979), “Memandang struktur sosial sebagai pedang bermata dua. Struktur dan aturan yang kita ciptakan membatasi perilaku kita

1.2 Maksud dan Tujuan
Untuk mengetahui konsep dari komunikasi kelompok. Untuk mengetahui tentang apa saja yang terkait dalam komunikasi organisasi. Untuk mengetahui format interaksi komunikasi organisasi. Selain itu juga untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah komunikasi agribisnis




BAB II
TINAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Komunikasi Kelompok
Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Kedua definisi komunikasi kelompok di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu untuk mencapai tujuan kelompok.
Sifat-sifat komunikasi kelompok sebagai berikut:
ü  Kelompok berkomunikasi melalui tatap muka;
ü  Kelompok memiliki sedikit partisipan;
ü  Kelompok bekerja di bawah arahan seseorang pemimpin;
ü  Kelompok membagi tujuan atau sasaran bersama;
ü  Anggota kelompok memiliki pengaruh atas satu sama lain

2.1.1 Prinsip Dasar Komunikasi
Kelompok merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas kita sehari-hari. Kelompok baik yang bersifat primer maupun sekunder, merupakan wahana bagi setiap orang untuk dapat mewujudkan harapan dan keinginannya berbagi informasi dalam hamper semua aspek kehidupan. Ia bias merupakan media untuk mengungkapkan persoalan-persoalan pribadi (keluarga sebagai kelompok primer), ia dapat merupakan sarana meningkatkan pengethuan para anggotanya (kelompok belajar) dan ia bias pula merupakan alat untuk memecahkan persoalan bersama yang dihadapi seluruh anggota (kelompok pemecahan masalah). Jadi, banyak manfaat yang dapat kita petik bila kita ikut terlibat dalam seuatu kelompok yang sesuai dengan rasa ketertarikan (interest) kita. Orang yang memisahkan atau mengisolasi dirinya dengan orang lain adalah orang yang penyendiri, orang yang benci kepada orang lain (misanthrope) atau dapat dikatakan sebagai orang yang antisosial.
Ada empat elemen yang muncul dari definisi yang dikemukakan oleh Adler dan Rodman tersebut, yaitu :
v  Elemen pertama adalah interaksi dalam komunikasi kelompok merupakan faktor yang penting, karena melalui interaksi inilah, kita dapat melihat perbedaan antara kelompok dengan istilah yang disebut dengan coact. Coact adalah sekumpulan orang yang secara serentak terkait dalam aktivitas yang sama namun tanpa komunikasi satu sama lain. Misalnya, mahasiswa yang hanya secara pasif mendengarkan suatu perkuliahan, secara teknis belum dapat disebut sebagai kelompok. Mereka dapat dikatakan sebagai kelompok apabila sudah mulai mempertukarkan pesan dengan dosen atau rekan mahasiswa yang lain.
v  Elemen yang kedua adalah waktu. Sekumpulan orang yang berinteraksi untuk jangka waktu yang singkat, tidak dapat digolongkan sebagai kelompok. Kelompok mempersyaratkan interaksi dalam jangka waktu yang panjang, karena dengan interaksi ini akan dimiliki karakteristik atau ciri yang tidak dipunyai oleh kumpulan yang bersifat sementara.
v  Elemen yang ketiga adalah ukuran atau jumlah partisipan dalam komunikasi kelompk. Tidak ada ukuran yang pasti mengenai jumlah anggota dalam suatu kelompok. Ada yang memberi batas 3-8 orang, 3-15 orang dan 3-20 orang. Untuk mengatasi perbedaan jumlah anggota tersebut, muncul konsep yang dikenal dengan smallness, yaitu kemampuan setiap anggota kelompk untuk dapat mengenal dan memberi reaksi terhadap anggota kelompok lainnya. Dengan smallness ini, kuantitas tidak dipersoalkan sepanjang setiap anggota mampu mengenal dan memberi rekasi pada anggota lain atau setiap anggota mampu melihat dan mendengar anggota yang lain/seperti yang dikemukakan dalam definisi pertama.
v  Elemen terakhir adalah tujuan yang mengandung pengertian bahwa keanggotaan dalam suatu kelompok akan membantu individu yang menjadi anggota kelompok tersebut dapat mewujudkan satu atau lebih tujuannya

2.1.2 Klasifikasi Komunikasi Kelompok dan Karakteristiknya
Telah banyak klasifikasi kelompok yang dilahirkan oleh para ilmuwan sosiologi, namun dalam kesempatan ini kita sampaikan hanya dua klasifikasi kelompok yaitu  :
v  Kelompok primer dan sekunder
            Horton Cooley pada tahun 1909 (dalam Jalaludin Rakhmat, 1994) mengatakan bahwa kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerja sama. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita.
Jalaludin Rakhmat membedakan kelompok ini berdasarkan karakteristik komunikasinya, sebagai berikut:
1.      Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam, artinya menembus kepribadian kita yang paling tersembunyi, menyingkap unsur-unsur backstage (perilaku yang kita tampakkan dalam suasana privat saja). Meluas, artinya sedikit sekali kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.
2.      Komunikasi pada kelompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
3.      Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok primer adalah sebaliknya
4.      Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental.
5.      Komunikasi kelompok primer cenderung informal, sedangkan kelompok sekunder formal.
6.      Kelompok keanggotaan dan kelompok rujukan.

v  Kelompok deskriptif dan kelompok preskriptif
John F. Cragan dan David W. Wright (1980) membagi kelompok menjadi dua: deskriptif dan peskriptif. Kategori deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara alamiah. Kelompok preskriptif, mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok. Cragan dan Wright mengkategorikan enam format kelompok preskriptif, yaitu: diskusi meja bundar, simposium, diskusi panel, forum, kolokium, dan prosedur parlementer.

2.1.3 Fungsi Komunikasin Kelompok
Dalam suatu komunikasi kelompok terdapat fungsi-fungsi komunikasi itu sendiri antara lain :
v  Fungsi pertama dalam kelompok adalah hubungan sosial, dalam arti bagaimana suatu kelompok mampu memelihara dan memantapkan hubungan sosial di antara para anggotanya seperti bagaimana suatu kelompok secara rutin memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk melakukan sktivitas yang informal, santai dan menghibur.
v  Pendidikan adalah fungsi kedua dari kelompok, dalam arti bagaimana sebuah kelompok secara formal maupun informal bekerja unutk mencapai dan mempertukarkan pengetahun. Melalui fungsi pendidikan ini, kebutuhan-kebutuhan dari para anggota kelompok, kelompok itu sendiri bahkan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. Namun demikian, fungsi pendidikan dalam kelompok akan sesuai dengan yang diharapkan atau tidak, bergantung pada tiga faktor, yaitu jumlah informasi baru yang dikontribusikan, jumlah partisipan dalam kelompok serta frekuensi interaksi di antara para anggota kelompok. Fungsi pendidikan ini akan sangat efektif jika setiap anggota kelompk membawa pengetahuan yang berguna bagi kelompoknya. Tanpa pengetahuan baru yang disumbangkan msing-masing anggota, mustahil fungai edukasi ini akan tercapai.
v  Dalam fungsi persuasi, seorang anggota kelompok berupaya mempersuasikan anggota lainnya supaya melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Seseorang yang terlibat usaha-usaha persuasif dalam suatu kelompok, membawa resiko untuk tidak diterima oleh para anggota lainnya. Misalnya, jika usaha-usaha persuasif tersebut terlalu bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok, maka justru orang yang berusaha mempersuasi tersebut akan menciptakan suatu konflik, dengan demikian malah membahayakan kedudukannya dalam kelompok.
v   Fungsi keompok juga dicerminkan dengan kegiatan-kegiatannya untuk memecahkan persoalan dan membuat keputusan-keputusan. Pemecahan masalah (problem solving) berkaitan dengan penemuan alternatif atau solusi yang tidak diketahui sebelumnya; sedangkan pembuatan keputusan (decision making) berhubungan dengan pemilihan antara dua atau lebih solusi. Jadi, pemecahn masalah menghasilkan materi atu bahan untuk pembuatan keputusan.
v   Terapi adalah fungsi kelima dari kelompok. Kelompok terapi memiliki perbedaan dengan kelompok lainnya, karena kelompok terapi tidak memiliki tujuan. Objek dari kelompok terapi adalah membantu setiap individu mencapai perubahan personalnhya. Tentunya, individu tersebut harus berinteraksi dengan anggota kelompok lainnya guna mendapatkan manfaat, namun usaha utamanya adalh membantu dirinya sendiri, bukan membantu kelompok mencapai konsensus. Contoh dari kelompok terapi ini adalah kelompok konsultasi perkawinan, kelompok penderita narkotika, kelompok perokok berat dan sebagainya. Tindak komunikasi dalam kelompok-kelompok terapi dikenal dengan nama pengungkapan ciri (self disclosure). Artinya, dalam suasana yang mendukung, setiap anggota dianjurkan untuk berbicara secara terbuka tentang apa yang menjadi permasalahannya. Jika muncul konflik antar anggota dalam diskusi yang dilakukan, orang yang menjadi pemimpin atau yang memberi terapi yang akan mengaturnya.
Dalam organisasi, komunikasi berfungsi untuk :
Pengaturan dan operasi, yakni untuk kepentingan penyelesaian pekerjaan dan membereskan tugas demi pencapaian tujuan. Inovasi/pembaharuan, untuk kepentingan pembaharuan dan pengubahan tata kerja demi penyesuaian, kelangsungan hidup, dan pengembangan organisasi di tengah lingkungan yang terus berubah. Sosialisasi atau pembinaan, yakni berkaitan dengan anggota sebagai manusia. Khusus dalam upaya motivasi, pengimbalan, dan moral kerja. Sosialisasi berdampak kepada :
-          Harga diri anggota
-          Hubungan interpersonal dalam organisasi
-          Motivasi ; integrasi kepentingan 

2.2 Pengertian Komuniaksi Organisasi
Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005). Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual.
Korelasi antara ilmu komunikasi dengan organisasi terletak pada peninjauannya yang terfokus kepada manusia-manusia yang terlibat dalam mencapai tujuan organisasi itu. Ilmu komunikasi mempertanyakan bentuk komunikasi apa yang berlangsung dalam organisasi, metode dan teknik apa yang dipergunakan, media apa yang dipakai, bagaimana prosesnya, faktor-faktor apa yang menjadi penghambat, dan sebagainya. Jawaban-jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah untuk bahan telaah untuk selanjutnya menyajikan suatu konsepsi komunikasi bagi suatu organisasi tertentu berdasarkan jenis organisasi, sifat organisasi, dan lingkup organisasi dengan memperhitungkan situasi tertentu pada saat komunikasi dilancarkan.

2.2.1 Pendekatan Dalam Komunikasi Organisasi
Kita dapat melakukan pendekatan pada organisasi sekurang-kurangnya melalui empat persepektif: pendekatan manajemen ilmiah atau klasik, pendekatan hubungan antar manusia, pendekatan sistem, dan pendekatan kultural (Goldhaber,1990).
a. Pendekatan ilmiah
Pendekatan ilmiah menganggap bahwa organisasi harus menggunakan metoda-metoda ilmiah untuk meningkatkan produktivitas. Berbagai studi pengendalian secara ilmiah akan memungkinkan manajemen mengidentifikasi cara-cara atau alat untuk meningkatkan produktivitas, dan pada akhirnya akan meningkatkan laba. Dalam pandangannya ini produktivitas pada umumnya menyangkut masalah fisik dan psikologis. Produktivitas dipandang dalam bentuk permintaan phisik akan pekerjaan dan kemampuan psikologis para pekerjanya.
b. Pendekatan hubungan antar manusia
Pendekatan hubungan antarmanusia berkembang sebagai reaksi terhadap perhatian eksklusif faktor-faktor phisik dalam mengukur keberhasilan organisasi. Salah satu asumsi prinsip dari pendekatan hubungan antarmanusia adalah bahwa kenaikan kepuasan kerja akan mengakibatkan kenaikan produktivitas. Seorang karyawan yang bahagia adalah karyawan yang produktif. Oleh karena itu, fungsi manajemen adalah menjaga agar para karyawan terus merasa puas.
c. Pendekatan sistem
Pendekatan sistem mengkombinasikan unsur-unsur terbaik dari pendekatan ilmiah dengan pendekatan hubungan antarmanusia. Pendekaan ini memandang organisasi sebagai suatu sistem dimana semua bagian berinteraksi dan setiap bagian mempengaruhi bagian lainnya. Organisasi dipandang sebagai suatu sistem terbuka-terbuka terhadap informasi baru, responsif terhadap lingkungan, bersifat dinamis dan selalu berubah.
d. Pendekatan kultural
Sebuah pendekatan kontemporer mengenai organisasi menganggap bahwa perusahaan harus dipandang sebagai suatu kesatuan sosial atau kultur (pilotta, Widman, & Jasko, 1988;Putnam & Pacanowsky, 1983). Seperti pada umumnya suatu kelompok atau kultur sosial yang selalu memiliki aturan mengenai misalnya, perilaku peran, kepahlawanan, dan nilai-nilai, maka demikian juga suatu organisasi. Oleh karena itu, pada pendekatan ini organisasi harus meneliti untuk mengidentifikasikan jenis kultur dan norma-norma atau nilai-nilai spesifik yang dianutnya. Tujuan dari analisis ini adalah untuk memungkinkan kita bisa memahami bagaimana organisasi berfungsi dan bagaiama hal itu mempengaruhi dan dipengaruhi oleh para anggotanya (karyawannya) dalam kultur organisasi itu
.
2.2.2 Jaringan Komunikasi Organisasi
Yang dimaksud dengan jaringan disini adalah saluran yang digunakan untuk meneruskan pesan dari satu orang ke orang lain. Jaringan ini dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, kelompok kecil sesuai dengan sumberdaya yang dimilikinya akan mengembangkan pola komunikasi yang menggabungkan beberapa struktur jaringan komunikasi. Jaringan komunikasi ini kemudian merupakan sistem komunikasi umum yang akan digunakan oleh kelompok dalam mengirimkan pesan dari satu orang ke orang lainnya. Kedua, jaringan komunikasi ini bisa dipandang sebagai struktur yang diformalkan yang diciptakan oleh organisasi sebagai sarana komunikasi organisasi.
v  Struktur jaringan komunikasi
a.      Struktur lingkaran
Struktur lingkaran tidak memiliki pemimpin. Semua anggota posisinya sama. Mereka memiliki wewenang atau kekuatan yang sama untuk mempengaruhi kelompok. Setiap anggota bisa berkomunikasi dengan dua anggota lain di sisinya. Struktur roda
b.      Struktur roda
Memiliki pemimpin yang jelas, yaitu yang posisinya di pusa. Orang ini merupakan satu-satunya yang dapat mengirim dan menerima pesan dari semua anggota. Oleh karena itu, jika seorang anggota ingin berkomunikasi dengan anggota lain, maka pesannya harus disampaikan melalui pemimpinnya.
      c. Struktur Y
Struktur Y relatif kurang tersentralisasi dibanding struktur roda, tetapi lebih tersentralisasi dibanding dengan pola lainnya. Pada struktur Y juga terdapat pemimpin yang jelas. Tetapi satu anggota lain berperan sebagai pemimpin kedua. Anggota ini dan mengirimkan dan menerima pesan dari dua orang lainnya. Ketiga anggota lainnya komunikasinya terbatas hanya dengan satu orang lainnya.
      d. Struktur rantai
Struktur rantai sama dengan struktur lingkaran kecuali bahwa para anggota yang paling ujung hanya dapat berkomunikasi dengan satu orang saja. Keadaan terpusat juga terdapat disini. Orang yang berada di posisi tengah lebih berperan sebagai pemimpin daripada mereka yang berada di posisis lain.
       e.  Struktur semua saluran
struktur semua saluran atau pola bintang hampir sama dengan struktur lingkaran dalam arti semua anggota adalah sama dan semuanya juga memiliki kekuatan yang sama untuk mempengaruhi anggota lainnya. Akan tetapi, dalam struktur semua saluran, setiap anggota bisa berkomunikasi dengan setiap anggota lainnya. Pola ini memungkinkan adanya partisipasi anggota secara optimum.

2.2.3 Arus Komunikasi Organisasi
Pembahasan mengenai komunikasi dalam organisasi dalam bentuk arah arus informasinya sangat penting. Komunikasi ke atas dan ke bawah (sering disebut vertikal) dan komunikasi lateral barangkali merupakan yang paling penting. Di samping itu, kita akan melihat pada informasi samar dan juga pada sebab dan akibat adanya kepadatan informasi.
a.      Komunikasi ke atas
Komunikasi ke atas merupakan pesan yang dikirim dari tingkat hirarki yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi-misalnya, para pelaksana ke manajernya, atau dari para dosen ke dekan fakultas. Jenis komunikasi ini biasanya mencakup (1)kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan, (2)masalah yang berkaitan dengan pekerjaan dan pertanyaan yang belum terjawab, (3)berbagai gagasan untuk perubahan dan saran-saran perbaikan; dan (4)perasaan yang berkaitan dengan pekerjaan mengenai organisasi, pekerjaan itu sendiri, pekerjaan lainnya, dan masalah lain yang serupa.
Komunikasi ke atas sangat penting untuk mempertahankan dan bagi pertumbuhan organisasi. Komunikasi itu memberikan manajemen umpan balik yang diperlukan mengenai semangat kerja para karyawannya dan berbagai ketidakpuasan yang mungkin. Komunikasi itu juga membuat bawahan memiliki rasa memiliki dan merasa sebagai bagian dari organisasi. Di samping itu juga memungkinkan manajemen memiliki kesempatan untuk memperoleh berbagai gagasan baru dari para pegawainya.
Masalah tentang komunikasi ke atas Di samping penting bagi organisasi, komunikasi atas itu sulit dikendalikan. Salah satu masalahnya adalah pesan yang mengalir ke atas seringkali merupakan pesan yang perlu di dengar oleh hirarki yang lebih tinggi lagi. Para pekerja seringkali enggan mengirim pesan yang negatif karena merasa khawatir mereka dianggap sebagai biang keladi.
b.      Komunikasi ke bawah
Komunikasi ke bawah merupakan pesan yang dikirim dari tingkat hirarki yang lebih tinggi ke tingkat yang lebih rendah. Sebagai contoh, pesan yang dikirim oleh manajer kepada karyawannya atau dari dekan fakultas kepada para dosennya adalah komunikasi ke bawah. Perintah seringkali merupakan contoh jelas untuk komunikasi ke bawah:”Ketik surat ini rangkap dua,””Kirim barang ini sebelum tengah hari.” Tulis kopi iklan ini,” dan sebagainya.
Masalah tentang komunikasi ke bawah Manajemen dan karyawan seringkali berbicara dengan bahasa yang berbeda. Banyak manajer yang tidak mengetahui bagaimana agar pesan mereka dapatdipahami oleh karyawannya. Misalnya saja, kebanyakan manajer memilki pendidikan yang lebih tinggi dan banyak bahasa teknis mengenai bisnis daipada para karyawannya.
c.       Komunikasi lateral
Komunikasi lateral adalah pesasn antara sesama-manajer ke manajer, karyawan ke karyawan. Pesan semacam ini bisa bergerak di bagian yang sama di dalam organisasi atau mengalir antar bagian. Komunikasi lateral merupakan komunikasi yang terjadi antara dua dosen sejarah di perguruan tinggi yang sama. Juga bisa merupakan komunikasi antara dua dosen psikologi di dua universitas yang berbeda. Masalah pada komunikasi lateral Salah satu masalah yang jelas pada komunikasi lateral adalah bahasa yang khusus yang dikembangkan oleh divisi tertentu di dalam organisasi. Bahasa semacam itu seringkali sulit dipahami oleh penerima pesan. Untuk bisa berkomunikasi dengan psikolog misalnya, maka perlu berbicara dengan bahasa psikologi- untuk mengetahui arti dari beberapa istilah seperti skedul, pemantapan, egoisme, katarsis, STM, dan asosiasi bebas.
d.      Kabar burung
Menurut ahli organisasi, John Baird (1977), meskipun kabar burung merupakan bagian dari komunikasi informal dalam setiap organisasi besar, jenis komunikasi itu jangan digunakan terlalu sering seperti folklore yang sudah biasa kita ketahui. Biasanya kabar burung tidak terjadi pada iklim yang stabil. Perubahan dan ketidakjelasan mendorong timbulnya kabar burung. Bagaimanapun juga tidaklah mengherankan apabila jenis komunikasi ini menghasilkan ketepatan informasi yang tinggi.
e.       Kepadatan informasi
Sekarang ini, dengan kecanggihan teknologi, kepadatan informasi merupakan salah satu masalah kita yang terbesar. Informasi dikembangkan dengan kecepatan tinggi sehingga sulit untuk diikuti semuanya dan dianggap relevan untuk satu jenis pekerjaan tertentu. Dengan kadar yang berbeda-beda setiap orang harus mampu menyeleksi informasi tertentu dan menganggap informasi lain tidak penting. Kepadatan informasi tampaknya sudah menjalar di semua organisasi. Dan sudah barang tentu, inilah penyebab mengapa begitu  banyak organisasi yang mengunakan komputer untuk mengatasinya. Dengan menaruh apa saja ke dalam komputer memang relati mudah dan efisien untuk mengatasi kecepatan informasi. Tetapi cara itu tidak merupakan jawaban untuk semuanya. Beberapa kerja manusia masih diperlukan untuk mengerjakan informasi-sekurang-kurangnya biasanya demikian. Dan dalam kondisi informasi yang terlalu padat, maka kesalahan sudah biasa terjadi, hanya karena seseorang tidak bisa menyediakan waktu yang dibutuhkan untuk segalanya. Semakin kita sibuk, semakin banyak kesalahan yang kita buat. Di samping itu masih banyak lagi penundaan antara pengiriman pesan dengan pelaksanaan tindakan yang diperlukan, dan penundaan itu merupakan hal yang tidak efisien dan menelan biaya bagi organisasi.

2.3 Kekuatan dan Kelemahan KKO
Kelebihan yaitu bahwa proses ini dapat terus berlangsung dan berubah secara konstanartinya komunikasi organisasi bukanlah suatu yang terjadi kemudian berhenti terjadisepanjang waktu. Dengan sifat dinamik tersebut maka komunikasi ini bisa disesuaikandengan kondisi yang berlaku dan bukan merupakan tipe komunikasi yang kaku.Sedangkan kelemahan dari komunikasi kelompok dan organisasi yaitu bagaiamana menyampaikaninformasi keseluruhan bagian organisasi prosesi ini berhubungan dengan aliran informasi.
Organisasi mengandalkan inovasi dan harus mampu menghasilkan informasi.. Guezknow(1965) mengatakan informasi dalam suatu organisasi dapat terjadi tiga bentuk serentak,berurutan, serta dengan cara kombinasi. Sering kali pesan-pesan disebut memo ataumemorendum dikirim kepada sejumlah orang dalam sebuah organisasi. Seperti pertemuanDosen semua Fakultas di suatu Universitas, Rektor memberikan pesan kepada semua dosesnsekaligus. Pengirimiman pesan secara serentak ini dapat menggambarkan ketidakeffektifankomunikasi antara individu karena penyampaian pesan bisa secara tiba – tiba tanpa adanyahubungan komunikasi dulu. Komunikasi organisasi tidak perlu langsung dan sering kaliagak kurang dipengaruhi emosi dan lebih cendrung melibatkan pengaruh antar pribadisebagai kebalikan dari pemusan sasaran organisasi yang rasional (Goloberg dan Larson,1985)

2.4 Kegunaan KKO
Komunikasi organisasi memberikan gambaran suatu  konsep individu, mikro – makro dangabungan serta evaluasi keadaan internal. Dari gambaran tersebut akan menjelaskankeseluruhan tingkat kepuasaan dalam lingkungan komunikasi organisasi (Sudianto, 2008).Kepuasan memiliki makna sebagai suatu konsep yang biasanya berkenaan dengankenyamanan, jadi kepuasan dalam komunikasi berarti seseorang merasa nyaman denganpesan-pesan media dan hubungan dalam organisasi. Kenyamanan memiliki kecendrungan,dalam hal ini kadang-kadang menyebabkan individu lebih menyukai pelaksanaan terbaruuntuk peningkatan individu






BAB III
PEMBAHASAAN

3.1 Fenomena Cooperative farming (CF) di Kediri, Jawa Timur
Cooperative farming dapat diartikan sebagai model pemberdayaan kelompok petanimelalui rekayasa sosial, ekonomi, teknologi, dan nilai tambah. Model CF di Jawa Timur jugamenerapkan keempat rekayasa tersebut. Rekayasa sosial dilakukan dalam bentuk penguatankelembagaan tani, penyuluhan, dan pengembangan SDM. Rekayasa ekonomi dilakukan dalambentuk pengembangan akses permodalan, pengadaan saprodi, dan akses pemasaran. Rekayasateknologi dilakukan melalui kesepakatan antara teknologi anjuran dengan kebiasaan petani.Terakhir, rekayasa nilai tambah dilakukan dengan pengembangan usaha off farm yangterkoordinasi secara vertikal dan horisontal
CF terdiri atas beberapa seksi guna mendukung program CF. Posisi tertinggi ditempatimusyawarah anggota, wahana pengambilan keputusan penting bagi kelangsungan organisasi CF.Posisi kedua ditempati forum komunikasi kelompok yang beranggotakan wakil dari masing-masing subkelompok. Forum komunikasi bertugas mengawasi kebijakan pengurus, memeriksadan menilai pelaksanaan organisasi, dan bertanggung jawab atas hasil pemeriksaan kepadamusyawarah anggota. Selanjutnya posisi ketiga adalah pengelola kelompok, yang terdiri atasmanajer, sekretaris, dan bendahara. Pengelola dipilih dari anggota yang mempunyai kemampuandan memenuhi kriteria fungsi masingmasing jabatan. Fungsi manajer antara lain adalahmengkoordinasikan dan mengendalikan organisasi CF, melaksanakan rencana kegiatan  kelompok, mewakili kepentingan kelompok dengan pihak luar, mengembangkan usahakelompok, dan memberi alternatif pemecahan masalah yang ditemui kelompok CF di lapangan.Seksi-seksi dibentuk sesuai dengan kebutuhan. Terdapat lima seksi dalam kelompok CF di JawaTimur, yaitu pengelolaan air, alsintan, permodalan dan saprodi, produksi, serta pascapanen danpemasaran. Setiap seksi bekerja di bawah koordinasi manajer, melaksanakan fungsinya dalaminternal kelompok maupun bekerja sama dengan pihak luar, misalnya dalam penyusunan rencanadan penyiapan saprodi.
Gambar menunjukkan sinergi kerja antar-stakeholder CF. Lembaga keuangan dari pihak swasta melakukan investasi terhadap penghasil saprodi dalam hal ini Petrokimia untuk pupuk (1)dan Syang Hyang Seri untuk benih (2). Dua pihak swasta penghasil input tersebut menjalinkemitraan dengan CF dalam penyediaan pupuk (3) dan benih (4). Pihak pemerintah dalam hal iniDinas Pertanian bertindak sebagai fasilitator bagi pihak swasta dan kelompok sekaliguskatalisator implementasi kegiatan CF (5). Saprodi dari mitra kerja yang disalurkan melalui pusatkegiatan kelompok, yaitu penggilingan padi (6), digunakan anggota CF untuk berusaha tani (7).Ketika panen, para anggota melakukan pascapanen terpadu (8) di penggilingan padi (9).Apabila kegiatan pascapanen sudah tuntas, produk dipasarkan oleh Dolog sebagai pihak swastamitra pemasaran (10) dengan permodalan dari pinjaman Bank Bukopin (11). Mekanisme di atassecara periodic diawasi dan dievaluasi oleh kelompok maupun mitra kerja. Melalui pengurus,kelompok melaporkan kinerjanya kepada investor untuk melihat kelayakan usaha (12).
Cooperative farming secara langsung telah memberdayakan lembaga tani yang ada, yaitukelompok tani, mengembangkan kualitas SDM melalui penyuluhan tentang pentingnyakemitraan, kesepakatan, dan kebersamaan. Selain itu, kerja sama secara vertical dan horisontaldengan pihak swasta dengan fasilitator pemerintah telah mampu mengurangi caracara koordinasiyang bersifat topdown dan sentralistik. Pola topdown dan sentralistik masih tercermin dalammodel corporate farming. Pada CF, pemerintah memfasilitasi petani melalui pemberdayaansecara bottom-up dan terdesentralisasi, sehingga lebih mengenai sasaran utama yaitumengembangkan kualitas SDM petani. Petani akan secara aktif terlibat dalam setiap kegiatan danmempunyai sense of belonging yang tinggi akan keberhasilan usaha kelompoknya, karenaorganisasi tersebut berasal, dikelola, dan diambil manfaatnya oleh petani sendiri.












BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Komunikasi kelompok mempunyai pengertian sebagai berikut interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Di dalam komunikasi kelompok juga mencakup tentang prinsip, klasifikasi dan karakteristik komunikasinya, fungsi kelompok serta faktor yang mempengaruhi keefektifan kelompok. Sedangkan Komunikasi organisasi mempunyai oengertian sebagai berikut pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi. Serta mencakup pendekatan-pendekatan yang terkait dalam komunikasi organisasi, selain itu terdapat pula jaringan komunikasi dan arus dalam komunikasi. Serta format interaksi komunikasi organisasi terdiri dari komunikasi interpersonal, publik dan komunikasi kelompok kecil.
Peningkatan produksi sebagai dampak positif penerapan teknologi dan input lainnyamuncul berbagai permasalahan yang berkaitan dengan proses pengolahan produk hingga tahappemasaran kepada konsumen. Permasalahan tersebut menekankan keterampilan setiap pelakuindividu dalam prosesnya. Keterampilan individu tercakup dalam setiap aspek pengolahan untuk memproduksi hasil. Salah satu individu yang perlu dijadikan titik perhatian yaitu petani.Petani dalam proses produksi hasil tani membentuk sebuah kelompok yang dikenalsebagai kelompok tani, dari kelompok tersebut membentuk sebuah kelembagaan yang disebutGabungan Kelompok Tani. Tujuan yaitu untuk pola distribusi informasi merata sehinggaterbentuk koordinasi. Dalam kelompok tersebut terdapat perwakilan dari kelompok kecil taniyang dikenal sebagai kontak tani.
Dari lembaga tersebut disalurkan informasi seputar pertanianke masing – masing kontak tani, kemudian dari kontak – kontak tani didistribusikan kepadakelompok tani kecil masing – masing. Proses ini disebut komunikasi kelompok dan organisasi.Salah satu bentuk komunikasi organisasi dan kelompok yang sudah diterapakan yaituCooperative Farming. Bentuk komunikasi ini telah mengefektifkan jalur komunikasi dari petanike pihak – pihak swasta dan negeri untuk kepentingan produktivitas pertanian

4.2 Saran
Semoga dengan ditulisnya makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Serta dapat mengetahui tentang seluk beluk dalam komunikasi kelompok dan komunikasi organisasi.























DAFTAR PUSTAKA

Muhammad, Arni. 1989. KOMUNIKASI ORGANISASI. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Alvin. A Goloberg – Carl El Larson, Komuniasi Kelompok, UI Press jakarta 1985: 10
Guezknow. 1965. Dalam Komunikasi Organisasi Sebagai Mobilitas Sosial.
Diaksesmelaluihttp://www.uinsuska.info/dakwah/attachments/093_10komunikasiorganisasi.pdf.Tanggal akses 11/10/2010.
Goloberg dan Larson, 1985. Dalam Komunikasi Organisasi Sebagai Mobilitas SosiaDiakses melalui http://www.uinsuska.info/dakwah/attachments/093_10komunikasiorganisasi.pdf. Tanggal akses 02/10/2012
Muhammad. 2005. Dalam. Proses Komunikasi Diakses melaluihttp://psdg.bgl.esdm.go.id/makalah/PrOsesKomNew.pdf. Tanggal akses 01/10/2012/ 
Nuryati. 2004. Bagaimana Prospek Cooperative Farming Berbasis Padi – Palawija.
PusatAnalisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor. Diakses 03 http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/wr274053.pdf . Tanggal akses 0/10/2012
Sudianto. 2008. Komunikasi Organisasi Sebagai Mobilitas Sosial. Diakses melaluihttp://www.uinsuska.info/dakwah/attachments/093_10komunikasiorganisasi.pdf. Tanggalakses 02/10/2012.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar