Jumat, 09 November 2012

uji parametrik dan non parametrik

UJI PARAMETRIK DAN NON PARAMETRIK Uji Parametrik : adalah suatu uji yang menghendaki syarat-syarat spesifik mengenai parameter dan populasi darimana cuplikan diambil. Uji parametrik membutuhkan suatu tingkat pengukuran yang teliti, paling tidak dalam skala interval. Hasil dari suatu uji parametric dapat diterima berdasarkan suatu harga penerimaan (validity). Uji Nonparametrik : Adalah suatu uji dengan model yang yang tidak membutuhkan suatu parameter khusus dari populasi yang diamati. Beberapa asumsi yang berhubungan erat dengan uji statistik nonparametrik adalah bahwa pengamatan tersebut bebas dan variable yang diamati kontinu, tetapi asumsi yang dibuat dalah lebih lemah dan kurang teliti bila dibandingkan dengan uji parametric. Oleh karena itu uji nonparametric tidak membutuhkan tingkat ketilitian yang tinggi seperti uji parametric. Biasanya uji nonparametric dipakai untuk menganalisis data dalam skala ordinal dan nominal. Keuntungan Uji Statistika Nonparametrik 1. Nilai peluang yang didapat dari uji statistika nonparametric adalah nilai yang pasti ( kecuali untuk cuplikan-cuplikan yang besar, dimana pendekatan sebenarnya mungkin dapat dicapai, tanpa memperhatikan bentuk sebaran populasi dari mana cuplikan diambil. Ketepatan dari nilai peluang tidak tergantung pada bentuk populasinya. Dalam beberapa hal uji nonparametrik dapat mengasumsikan suatu sebaran populasi yang kontinu yaitu asumsi yang dikehendaki dalam uji parametric. 2. Bila jumlah atau ukuran cuplikan sangat kecil ( missal N = 6 ), maka uji Statistika parametric tidak dapat dipakai kecuali bila diketahui dengan pasti sebaran populasinya. 3. Uji Tanda Uji Wilcoxon Uji U Uji Kruskal Fungsi Uji signifikansi beda 2 perlakuan Uji signifikansi beda (A dan B) & Besar beda rankingnya Uji signifikansi beda perlakuan dari cuplikan ganda tidak berpasangan Uji signifikansi beda perlakuan dari cuplikan lebih dari dua kelompok tidak berpasangan Sifat Data Cuplikan Ganda Berpasangan Cuplikan Ganda Berpasangan Jika asumsi distribusi normal tidak terpenuhi Cuplikan Ganda TidakBerpasangan Cuplikan > 2 Tidak Berpasangan Asumsi distribusi kontinu Tdk memperhatikan bentuk sebaran data ≠ sebaran normal Skala Ukur Nominal: 2 kategori Nominal /ordinal ordinal ordinal Hipotesis : Ho : p(+) = p(-) p(+) = p(-) = ½ = 0.5 Ho : p(A) = p (B) Ho : µx = µy Ho : µ1= µ2= µ3 = … = µt One-Tail H1 : p(+) > p(-) H1 : p(+) > p(-) H1 : µx>µy p(+) < p(-) p(+) < p(-) µx<µy Two-Tail p(+) ≠ p(-) p(+) ≠ p(-) µx≠µy Ho : µ1≠µ2≠µ3≠ … ≠µt ∑ Cuplikan : C. Kecil Tanda (+) + (-) < 20 Tanda 0 : dihilangkan untuk mengurangi jumlahdatanya Uji Binomium Tabel Binomial Probabilities n≤10 Tanda 0 : dihilangkan untuk mengurangi jumlah datanya Uji T Tabel Wilcoxon n ≤ 8 9≤ n ≤ 20 ( cuplikan sedang ) Uji U C. Besar Tanda (+) + (-) > 20 Uji Pendekatan Sebaran Normal Tabel Z n≥ 10 Uji Pendekatan Sebaran Normal Tabel Z n ≥ 20 Keputusan : Terima Ho jika P hit >α Terima Ho jika P hit >α C. Kecil Tolak HoTerima H1 P hit <α P hit ( p-value ) = 2 ( p tab sampai α ) Tolak HoTerima H1 Jika : Nilai T hit = T tab C. Besar Mean µ = 0.5 n Std Dev = σ σ=√0.25 n x - µ Zhit = ----------- σ Tolak Ho jika : Zhit< Ztab (α) or Zhit> Ztab (α) Mean : µT=0 Std Dev : n(n+1)(2n+1) σT =√------------- 6 T - µT Zhit = ----------- σT Tolak Ho jika : Zhit< Ztab (α) or Zhit> Ztab (α) Latihan : 1. 12 customer berpartisipasi untuk mengetahui preferensi customer terhadap kesetiaan terhadap produk cereal gandum impor (Milo) dibandingkan produk baru cereal jagung domestik (Miroso). Dengan taraf nyata α = 0.05 %, lakukanlah uji beda signifikansi preferensi dua brand produk cereal tersebut. 2. Seorang peneliti komunikasi ingin mengetahui kecenderungan ibu-ibu rumah tangga dalam memilih dua macam stasiun TV swasta yang disenanginya untuk direkomendasikan pada sebuah produk rumah tangga yang akan dipromosikan. Untuk kepentingan itu diajukan pertanyaan kepada 50 ibu rumah tangga. Jika ibu-ibu tsb lebih menyenangi RCTI diberi tanda (+) , dan jika memilih Trans TV diberi tanda (-), sedang jika memilih keduanya diberi tanda (0). Hasil penelitian tsb : 25 orang lebih menyukai RCTI 15 orang lebih menyukai Trans TV 10 orang menyukai keduanya Lakukanlah uji kecenderungan ibu-ibu dalam memilih stasiun swasta tsb. 3. Untuk mengetahui kemampuan pemahaman mengenai teori sosial, mahasiswa program pascasarjana Unpad, antara mahasiswa sosek faperta dan mahasiswa sosiologi fisipol. Untuk itu dipilih secara random 10 pasangan kembar identik kemudian dilakukan test dan hasilnya diberi skor 0 – 100 dr masing2 mahasiswa. Apakah ada perbedaan kemampuan pemahaman teori sosial antara kedua mahasiswa dari fakultas yang berbeda tsb ? Pasangan Fisipol Faperta di Rank Rank dg tanda 1 82 63 2 69 42 3 73 74 4 43 37 5 81 64 6 68 44 7 73 76 8 43 37 9 80 69 10 60 59 4. UJI MANN – WHITNEY U ( the Mann-Whitney U Test ) Fungsi Apabila dalam pengukuran diperoleh data dalam skala ordinal, maka metode Uji Mann-Whitney (U) dapat dipergunakan untuk menguji apakah dua kelompok data yang tidak berpasangan (independent) berasal dari populasi yang sama atau tidak. Populasi A Populasi B Ho : a = b Uji Satu Arah : H1 : p ( a > b )> ½ , apabila H1 diterima, hal ini menunjukkan bahwa kelompok populasi A lebih besar daripada kelompok populasi B H1 : p ( b > a )> ½, apabila H1 diterima, hal ini menunjukkan bahwa kelompok populasi B lebih besar daripada kelompok populasi A Uji Dua Arah : H1 : p ( a > b ) ≠ ½ Metode n1 : banyaknya data kelompok tidak berpasangan yang terkecil (cuplikan kecil) n2 : banyaknya data dari kelompok dengan cuplikan besar Untuk pengujian menggunakan Uji U, kedua kelompok digabungkan dan dibuat ranking dari nilai terkecil sampai terbesar. Dalam pembuatan rank, tanda-tanda aljabar harus diperhatikan. Contoh : Kelompok percobaan ( n1 ) : 3 data Kelompok control ( n2 ) : 4 data Data E : 9 11 15 Data C : 6 8 10 13 Untuk mendapatkan nilai U, data tsb dibuat rank gabungan : 6 8 9 10 11 13 15 _______________________________ C C E C E C E Sekarang diperhatikan kelompok control dan hitung data E yang mendahului tiap-tiap data C. Jadi nilai U = 0 + 0 + 1 + 2 = 3 Perhitungan nilai U hanya digunakan untuk nilai n1 dan n2 yang lebih kecil dari 8. Jika n1 dan n2 cukup besar maka caranya yaitu memberi nomer rank dari satu sampai N (yang terbesar) dari susunan n1 + n2, maka diperoleh nilai dengan mempergunakan rumus : n1 ( n1 + 1 ) U = n1 . n2 + ------------------- - R 1 2 atau N2 ( n2 + 1 ) U = n1 . n2 + ------------------- - R 2 2 Dimana R1 : Jumlah nilai rank dari kelompok n1 R2 : Jumlah nilai rank dari kelompok n2 Analisis Variansi Klasifikasi Eka Arah Kruskal Wallis Fungsi Analisis varians eka arah K-W dengan mempergunakan rank adalah suatu uji yang mempunyai kegunaan ekstrim untuk menentukan apakah k cuplikan bebas berasal dari populasi-populasi yang berbeda. Teknik uji K-W adalah untuk menguji hipotesis nol yang menyatakan bahwa cuplikan berasal dari populasi yang yang sama atau dari beberapa populasi yang identic dengan memperhatikan rata-ratanya. Pengujian memerlukan asumsi bahwa perubah adalah menyebar kontinu. Selain itu memerlukan skala pengukuran paling sedikit ordinal dari perubah-perubahnya. Metode Langkah-Langkah pengerjaannya : 1. Berikan rank pada seluruh pengamatan dari k cuplikan dalam susunan satu baris dari rank 1 sampai rank N

pemberdayaan masyarakat

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Upaya pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari sisi keberadaannya sebagai suatu program ataupun sebagai suatu proses. Pemberdayaan sebagai suatu proses dapat dilihat dari tahapan-tahapan kegiatan guna mencapai suatu tujuan, yang biasanya telah ditentukan jangka waktunya. Namun, ada pula yang melihat pemberdayaan sebagai suatu proses. Sebagai suatu proses pemberdayaan merupakan proses yang berkesinambungan sepanjang hidup seseorang (on going process).
Proses pemberdayaan mengandung dua kecenderungan,yaitu kecenderungan primer dan kecenderungan sekunder. Kecenderungan primer merupakan proses pemberdayaan yang menekankan pada proses memberikan atau mengalihkan sebagian kekuasaan, kekuatan atau kemampuan kepada masyarakat agar individu yang bersangkutan menjadi lebih berdaya. Proses ini dapat dilengkapi dengan upaya membangun asset material guna mendukung pembangunan kemandirian mereka melalui organisasi.
Kecenderungan sekunder yaitu menekankan pada proses menstimulasi, mendorong atau memotivasi agar individu mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya melalui proses dialog sesungguhnya di antara kedua proses tersebut.

1.2. Tujuan

- Mengetahui pengertian dari pemberdayaan dalam masyarakat
- Mengetahui kasus pemberdayaan masyarakat yang terjadi disekitar kita
- Mampu menganalisis studi kasus mengenai pemberdayaan



BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Penegertian Pemberdayaan

Menurut Hogan dalam Rukminto, proses pemberdayaan individu sebagai suatu proses yang relatif terus berjalan sepanjang usia manusia yang diperoleh dari pengalaman individu tersebut dan bukannya suatu proses yang berhenti pada suatu masa saja (empowering is not an end state, but a process that all human experience).
Hogan menggambarkan proses pemberdayaan yang berkesinambungan sebagai suatu siklus yang terdiri dari lima tahapan utama, yaitu:
  • Menghadirkan kembali pengalaman yang memberdayakan
  • Mendiskusikan alasan mengapa terjadi pemberdayaan dan ketidakberdayaan
  • Mengidentifikasikan suatu masalah ataupun proyek
  • Mengidentifikasikan basis daya yang bermakna untuk melakukan perubahan
  • Mengembangkan rencana-rencana aksi dan mengimplementasikannya

Jadi, pemberdayaan ekonomi masyarakat pada hakikatnya merupakan suatu proses yang dinamis, menuntut adanya dinamika masyarakat dalam meningkatkan pendapatan per kapita untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari guna mengantisipasi dan mempersiapkan kondisi ekonomi di masa mendatang.
Sangat beragam definisi pemberdayaan masyarakat yang berkembang hingga saat ini, salah satunya adalah definisi yang dikemukakan oleh Ife (1995:182), “Providing people with the resources, opportunities, knowledge and skills to increase their capacity to determine their own future, and to participate in and affect the life of their community”. (Menyiapkan kepada masyarakat berupa sumber daya, kesempatan, pengetahuan dan keahlian untuk meningkatkan kapasitas diri masyarakat di dalam menentukan masa depan mereka, serta berpartisipasi dan mempengaruhi kehidupan dalam komunitas masyarakat itu sendiri).
Berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Korten, dalam konteks pekerjaan sosial, Payne dalam Adi (2003:h.54) mengemukakan bahwa: “Proses pemberdayaan pada intinya ditujukan guna membantu klien memperoleh daya untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan dia lakukan yang terkait dengan diri mereka, termasuk mengurangi efek hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan. Hal ini dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang dia miliki, antara lain melalui transfer daya dari lingkungannya”.
Berdasarkan definisi-definisi tersebut diatas, pemberdayaan masyarakat adalah suatu proses untuk meningkatkan kemampuan atau kapasitas masyarakat dalam memamfaatkan sumber daya yang dimiliki, baik itu sumber daya manusia (SDM)  maupun sumber daya alam (SDA) yang tersedia dilingkungannya agar dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Namun upaya yang dilakukan tidak hanya sebatas untuk meningkatkan kemampuan atau kapasitas dari masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi juga untuk membangun jiwa kemandirian masyarakat agar berkembang dan mempunyai motivasi yang kuat dalam berpartisipasi dalam proses pemberdayaan. Masyarakat dalam hal ini menjadi pelaku atau pusat proses pemberdayaan. Hal ini juga dikuatkan oleh pendapat Sumodingrat (2009:7), yang mengemukakan bahwa masyarakat adalah makhluk hidup yang memiliki relasi sosial maupun ekonomi, maka pemberdayaan sosial merupakan suatu upaya untuk membangun semangat hidup secara mandiri dikalangan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup masing-masing secara bersama-sama.
Dalam upaya pemberdayaan masyarakat perlu adanya suatu strategi yang nantinya dapat meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat. Salah satu strategi yang tidak umum dipakai dalam proses pemberdayaan masyarakat adalah pendampingan. Menurut Sumodiningrat (2009:106), pendampingan merupakan kegiatan yang diyakini mampu mendorong terjadinya pemberdayaan fakir miskin secara optimal. Perlunya pendampingan dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan pemahaman diantara pihak yang memberikan bantuan dengan sasaran penerima bantuan. Kesenjangan dapat disebabkan oleh berbagai perbedaan dan keterbatasan kondisi sosial, budaya dan ekonomi. Dalam melaksanakan tugasnya, para pendamping memposisikan dirinya sebagai perencana, pembimbing, pemberi informasi, motivator, penghubung, fasilitator, dan sekaligus evaluator.
Sumodiningrat (2009:104-106) lebih dalam menjelaskan bahwa bagi para pekerja sosial dilapangan, kegiatan pemberdayaan dapat dilakukan melalui pendampingan sosial. terdapat 5 (lima) kegiatan penting yang dapat dilakukan dalam melakukan pendampingan sosial, yaitu:

·      Motivasi
Masyarakat khususnya keluarga miskin perlu didorong untuk membentuk kelompok untuk mempermudah dalam hal pengorganisasian dan melaksanakan kegiatan pengembangan masyarakat. Kemudian memotivasi mereka agar dapat terlibat dalam kegiatan pemberdayaan yang nantinya dapat meningkatkan pendapatan mereka dengan menggunakan kemampuan dan sumber daya yang mereka miliki.

·      Peningkatan Kesadaran dan pelatihan kemampuan
Disini peningkatan kesadaran masyarakat dapat dicapai melalui pendidikan dasar, pemasyarakatan imunisasi dan sanitasi, sedangkan untuk masalah keterampilan bisa dikembangkan melalui cara-cara partisipatif. Sementara pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat melalui pengalaman mereka dapat dikombinasikan dengan pengetahuan yang dari luar. Hal-hal seperti ini dapat membantu masyarakat miskin untuk menciptakan sumber penghidupan mereka sendiri dan membantu meningkatkan keterampilan dan keahlian mereka sendiri.

·      Manajemen diri
Setiap kelompok harus mampu memilih atau memiliki pemimpin yang nantinya dapat mengatur kegiatan mereka sendiri seperti melaksanakan pertemuan-pertemuan atau melakukan pencatatan dan pelaporan. Disini pada tahap awal, pendamping membantu mereka untuk mengembangkan sebuah sistem. Kemudian memberikan wewenang kepada mereka untuk melaksanakan dan mengatur sistem tersebut.

·      Mobilisasi sumber
Merupakan sebuah metode untuk menghimpun setiap sumber-sumber yang dimiliki oleh individu-individu yang dalam masyarakat melalui tabungan dan sumbangan sukarela dengan tujuan untuk menciptakan modal sosial. hal ini didasari oleh pandangan bahwa setiap orang memiliki sumber daya yang dapat diberikan dan jika sumber-sumber ini dihimpun, maka nantinya akan dapat meningkatkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat secara substansial. Pengembangan sistem penghimpunan, pengalokasian, dan penggunaan sumber-sumber ini perlu dilakukan secara cermat sehingga semua anggota masyarakat memiliki kesempatan yang sama dan hal ini dapat menjamin kepemilikan dan pengelolaan secara berkelanjutan.


















2.2. Pembangunan dan Pengembangan Jaringan Pemberdayaan

Pengorganisasian kelompok-kelompok swadaya masyarakat perlu disertai dengan peningkatan kemampuan para anggotanya membangun dan mempertahankan jaringan dengan berbagai sistem sosial disekitarnya. Jaringan ini sangat penting dalam menyediakan dan mengembangkan berbagai akses terhadap sumber dan kesempatan bagi peningkatan keberdayaan masyarakat miskin.
Dalam strategi pemberdayaan masyarakat, upaya yang dilakukan adalah dengan meningkatkan kemampuan atau kapasitas masyarakat khususnya masyarakat miskin. Meningkatkan kemampuan dan kapasitas masyarakat ini disebut juga dengan penguatan kapasitas (capacity building). Penguatan kapasitas ini merupakan suatu proses dalam pemberdayaan masyarakat dengan meningkatkan atau merubah pola perilaku individu, organisasi, dan sistem yang ada di masyarakat untuk mencapai tujuan yang diharapkan secara efektif dan efisien.
Melalui penguatan kapasitas ini, maka masyarakat dapat memahami dan mengoptimalkan potensi yang mereka miliki untuk mencapai tujuan pemberdayaan, yaitu kesejahteraan hidup masyarakat. Strategi yang digunakan dalam penguatan kapasitas ini adalah melalui pendampingan. Jadi, strategi pendampingan sangat efektif dan efisien dalam proses pemberdayaan masyarakat, karena dengan adanya pendampingan maka kapasitas masyarakat dapat dikembangkan atau diberdayakan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat dan secara tidak langsung dapat membantu pemerintah dalam mengurangi tingkat kemiskinan.
Untuk memulihkan kondisi ekonomi yang memburuk akibat munculnya krisis ekonomi, diperlukan upaya yang kom-prehensif dan efektif sebagaimana yang tercantum dalam program pembangunan nasional (Propenas) yang menghendaki agar dilaksanakannya pro-gram pemberdayaan masyarakat untuk memulihkan kondisi ekonomi. Kesenjangan merupakan kenyataan yang ada dalam pembangunan yang memerlukan pemecahan dengan pemi-hakan dan pemberdayaan bagi pelaku ekonomi lemah secara nyata (Somoedi-ningrat, 1997).
Oleh karena itu, akan diusahakan pergeseran dari paradigma pertumbuhan menuju paradigma pembangunan yang bertumpu pada pemerataan dengan kekuatan ekonomi rakyat, usaha kecil, usaha menengah dan koperasi dengan memberikan kepada mereka kesempatan yang sama seperti kesempatan yang diberikan kepada usaha besar.
Konsep pemberdayaan merupakan paradigma baru dalam pembangunan masyarakat yang melibatkan masyarakat dalam kegiatan pembangunan baik dalam perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi.
Priyono (1996) memberikan makna pemberdayaan masyarakat sebagai upaya menjadikan suasana kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi semakin efektif secara struktural, baikdalam kehidupan keluarga, masyarakat, negara, regional, internasional maupun dalam bidang politik, ekonomi, psikologi dan lain-lain. Memberdayakan masyarakat mengandung makna mengembangkan, memandirikan, menswadayakan dan memperkuat posisi tawar-menawar masyarakat lapisan bawah terhadap kekuatan penekan di segala bidang dan sektor kehidupan.
Pemberdayaan masyarakat harus dipandang sebagai upaya untuk mempercepat dan memperluas upaya penang-gulangan kemiskinan melalui koordinasi berbagai kebijakan, program dan kegiatan pembangunan, baik di tingkat pusat maupun daerah sehingga efektivitasnya me-miliki signifikansi yang besar terhadap penanggulangan kemiskinan.











2.3. Contoh Kasus dari Pemberdayaan Masyarakat

Studi kasus : Solusi Percepatan Pembangunan Lampung Barat

Salah satu indikator kemakmuran suatu daerah, dan negara adalah pertumbuhan ekonominya yang signifikan. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi diperlukan adanya investasi yang sangat besar dan tenaga kerja yang produktif dan memiliki kualitas yang tinggi.  Apabila dalam mewujudkan hal tersebut negara yang bersangkutan tidak mampu, maka solusinya adalah melakukan pinjaman kepada pihak ketiga, sanggup menyewa tenaga ahli yang memiliki kemampuan yang baik, terutama para tenaga asing dimana jumlah dan variasinya lebih banyak.
Indonesia sebagai salah satu negara besar dengan jumlah penduduknya yang besar dan sebagian besar masih mengenyam pendidikan dasar, serta sebagian besar masih bekerja dibidang pertanian dengan mengolah sawah dan lading secara tradisional serta melakukan kegiatan industri yang masih dalam proses pengembangan, sehingga sangatlah mustahil mereka mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi seperti yang diharapkan selama ini.  Mungkin akan lebih bijaksana dan disenangi rakyat kalau para pemimpin mulai dari kepala negara sampai pada pejabat daerah menjanjikan kepada rakyatnya untuk memberikan kesempatan pemberdayaan, pelatihan ketrampilan yang tepat sasaran, dan penciptaan lapangan kerja serta yang terpenting adalah kesempatan menjadi magang untuk hidup yang mandiri yang lebih baik.
            Pemberdayaan tersebut memerlukan proses yang merupakan upaya untuk mendongkrak peningkatan ketrampilan dan penanaman jiwa inovatif dan kewirausahaan (entrepreneurship) yang dihantar dengan penciptaan kesempatan dan lapangan pekerjaan yang lebih luas dan merata bagi masyarakat.  Usaha dan upaya ini harus dilakukan dengan komitmen dan arahan yang tepat dan jelas untuk mengurangi jumlah angka pengangguran yang ada, baik yang bersifat resmi maupun tidak resmi, atau semi menganggur. Arah yang pertama mungkin berupa upaya aparatur pemerintah secara sungguh-sungguh, dan arah kedua berupa kewajiban setiap anak bangsa untuk berpartisipasi sebagai bekal hidup yang mandiri tanpa ketergantungan kepada orang lain.  Upaya pemberdayaan dan perluasan kesempatan kerja yang makin merata tersebut perlu ditentukan target secara serius.  Dengan demikian sebagian besar penduduk yang tingkat pendidikannya rendah dan berada pada garis dan bahkan dibawah garis kemiskinan wajib ikut secara sungguh-sungguh.
Pemerintah harus berani, termasuk pemerintah daerah berkata jujur bahwa pendekatan ini belum meningkatkan pertumbuhan ekonomi di segala sector pembangunan.  Tetapi, itu akan menjamin setiap masyarakat atau penduduk termasuk penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan akan memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan pembangunan.  Secara bertahap hasil kerja keras yang dilakukan selama ini akan menghantarkan setiap penduduk untuk bisa menjamin keluarganya dan dirinya untuk hidup secara mandiri, dimana mereka tidak perlu merasa terhina karena segala keperluan tidak lagi ditanggung oleh pemerintah melalui pelayanan secara gratis yang banyak dilakukan di daerah-daerah, apapun kualitasnya.  Proses pemberdayaan itu perlu dilakukan oleh seluruh aparatur pemerintah dimanapun melalaui reformasi birokrasi dan juga kelembagaan yang terarah dan tegas.
            Perubahan sikap dan tingkah laku birokrasi terutama birokratnya diarahkan untuk benar-benar mengabdi pada hasil yang diukur dari kemampuan, ketrampilan dan perubahan yang dialami penduduk sebagai objeknya.  Ukuran keberhasilan bukan terletak pada kegiatan aparatur saja, melainkan juga pada hasil akhir dari perubahan penduduk yang dibantu dalam proses pemberdayaan, yaitu penduduk yang bekerja dan memperoleh upah atau imbalan yang memadai.  Imbalan yang diberikan tersebut bukan belas kasihan, tetapi hasil kerja yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan menghasilkan produks yang laku dijual dipasar dan menguntungkan, sehingga imbalan tersebut mampu memenuhi kebutuhan hidup dari masyarakat tersebut. 
Karena itu reformasi birokrasi yang dilakukan harus merubah cara kerja yang hanya menunggu tamu, dalam arti rakyat yang membutuhkan pelayanan menjadi penjemput bola yang siap melayani masyarakat sesuai dengan potensi yang ada di lapangan, atau menjadikan anggota masyarakat sebagai entrepreneur yang mampu menjadikan sesuatu yang pantas untuk dijual dan menghasilkan suatu keuntungan yang tidak ada habisnya.  Reformasi yang dilanjutkan pada masa saat ini tidak hanya berlaku untuk birokrasi, tetapi juga perlu dilakukan secara dini melalui berbagai lembaga dan salah satunya adalah lembaga pendidikan.
            Indonesia memiliki persoalan kemiskinan dan pengangguran yang sulit untuk dipecahkan.  Kemiskinan di Indonesia dapat kita lihat dari tiga pendekatan yaitu kemiskinan alamiah, kemiskinan struktural, dan kesenjangan antar wilayah.  Persoalan pengangguran lebih dipicu oleh rendahnya kesempatan dan peluang kerja bagi angkatan kerja di pedesaan.  Upaya untuk menanggulanginya harus menggunakan pendekatan multi disiplin yang berdimensi pemberdayaan.  Pemberdayaan yang tepat haruslah memadukan aspek-aspek penyadaran, peningkatan kapasitas dan pendayagunaan.
            Berbagai program selama ini telah digulirkan oleh pemerintah baik pemerintah pusat, propinsi, maupun program dari pemerintah Kabupaten Lampung Barat sendiri.  salah satu program yang digulirkan oleh pemerintah pusat yang masih dijalankan sampai saat ini adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MP). Sementara program pemerintah Kabupaten Lampung Barat yang dilaksanakan sejak tahun 2008 lalu sebagai upaya pemberdayaan masyarakat adalah melalui Program Gerakan Membangun Bersama Rakyat (GMBR).  Kedua program tersebut memiliki tujuan yang mulia yaitu mensejahterakan masyarakat dengan memberdayakan masyarakat itu sendiri, dimana mereka yang menentukan kebutuhan yang memang sangat mendesak di desanya.  Untuk lebih gamblangnya mengenai pelaksanaan kedua program tersebut di Kabupaten Lampung Barat baik mengenai pelaksanaan, jumlah dana dan partisipasi masyarakat dapat dikupas satu persatu berikut.






Program PNPM-MP
Mulai tahun 2007 pemerintah Indonesia mencanangkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM-MP) Mandiri yang terdiri dari PNPM Mandiri Perdesaan, PNPM Mandiri Perkotaan, serta PNPM Mandiri wilayah khusus dan desa tertinggal.  PNPM Mandiri Perdesaan adalah program untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan secara terpadu dan berkelanjutan.  Pendekatan PNPM Mandiri Perdesaan merupakan pengembangan dan program Pengembangan Kecamatan (PPK), yang selama ini dinilai berhasil.  Beberapa keberhasilan PPK adalah berupa penyediaan lapangan kerja dan pendapatan bagi kelompok rakyat miskin , efisiensi dan efektivitas kegiatan, serta berhasil menumbuhkan kebersamaan dan partisipasi masyarakat.
            Visi PNPM Mandiri Perdesaan adalah tercapainya kesejahteraan dan kemandirian masyarakat miskin perdesaan.  Kesejahteraan berarti terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat.  Kemandirian berarti mampu mengorganisir diri untuk memobilisir sumber daya yang ada dilingkungannya, serta mengelola sumber daya tersebut untuk mengatasi masalah kemiskinan.  Sementara misi PNPM Mandiri Perdesaan adalah :
(1) peningkatan kapasitas masyarakat dan kelembagaannya
(2) pelembagaan sistem pembangunan partisipatif
(3) pengefektifan fungsi dan peran pemerintah lokal
(4) peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana sarana  sosial dasar dan ekonomi masyarakat
5) pengembangan jaringan kemitraan dalam pembangunan.
            Program PNPM-MP ini lebih menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan serta dengan memperhatikan potensi dan keanekaragaman yang dimiliki oleh daerah.  Karena salah satu aspek yang sangat fundamental dalam pelaksanaan prinsip-prinsip otonomi daerah adalah upaya pemberdayaan masyarakat, sehingga masyarakat dapat berperan aktif dalam setiap proses pembangunan daerah.  Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan  (PNPM-MP) merupakan program peningkatan kapasitas dan kelembagaan masyarakat. sehingga diharapkan dapat menjadi satu pola pengembangan kemampuan dan kapasitas masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan, agar secara bertahap masyarakat mampu membangun, diri dan lingkungannya.  Selain itu, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan (PNPM-MP) ini merupakan program sebagai upaya memberdayakan masyarakat pedesaan agar mampu membangun daerahnya dengan kemampuan dan potensi sumber daya yang dimiliki.
            Terkait dengan hal tersebut, maka pendekatan pemberdayaan masyarakat merupakan paradigma yang harus kita kembangkan dalam menyiapkan kapasitas masyarakat dalam pembangunan daerah dalam hal ini pembangunan daerah Kabupaten Lampung Barat. Selama ini upaya untuk mengatasi kemiskinan telah kita lakukan dengan berbagai program-program khusus penanggulangan kemiskinan. Hal ini menunjukkan bahwa upaya penanggulangan kemiskinan harus terus kita lakukan dengan tidak memisahkan kebersamaannya. Untuk itu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) merupakan program untuk memberdayakan masyarakat pekon melalui peningkatan kapasitas dan kelembagaan masyarakat, sehingga dengan pola pelaksanaan PNPM-MP ini sangat diharapkan dapat menjadi salah satu pola pengembangan kemampuan dan kapasitas masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan.
            Pelaksanaan pembangunan daerah sebagai bagian integral dari pelaksanaan pembangunan nasional tidak terlepas dari prinsip-prinsip otonomi yang terwujud dengan memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah secara proporsional dengan lebih menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan serta dengan memperhatikan potensi dan keanekaragaman yang dimiliki oleh daerah itu sendiri.  Untuk itu salah satu aspek yang sangat fundamental dalam pelaksanaan prinsip-prinsip otonomi daerah adalah upaya pemberdayaan masyarakat, sehingga masyarakat dapat berperan aktif dalam setiap proses pembangunan daerah. 
            Untuk itu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) merupakan program untuk memberdayakan masyarakat pekon melalui peningkatan kapasitas dan kelembagaan masyarakat, sehingga dengan pola pelaksanaan pnpm-mp ini sangat diharapkan dapat menjadi salah satu pola pengembangan kemampuan dan kapasitas masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan agar secara bertahap masyarakat mampu untuk :
·         pemantapan penyelenggaraan pemerintahan pekon dan pemerintahan kelurahan;
·         pemantapan kelembagaan serta pengembangan partisipasi dan keswadayaan masyarakat;
·         pemantapan kehidupan sosial budaya masyarakat;
·         pengembangan kegiatan usaha ekonomi masyarakat;
·         peningkatan pemanfaatan sumber daya alam berwawasan lingkungan;
·         peningkatan pendayagunaan teknologi tepat guna sesuai dengan kebutuhan masyarakat;

Selama ini upaya untuk mengatasi masalah kemiskinan telah kita lakukan melalui program-program khusus penanggulangan kemiskinan melalui program pemberdayaan seperti : Gerakan Pembangunan Bersama Rakyat (GMBR), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas, Jamkesda dan Jaminan Kesehatan Masyarakat Bersubsidi), subsidi pendidikan bagi siswa SLTA sederajat, dan Progran Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MP) ini.  Khusus untuk PNPM-MP, tahapan pelaksanaan PNPM-MP ini memang cukup panjang, namun demikian tentunya hal tersebut tidak akan menyurutkan langkah kita untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat secara bersama-sama dan menganggap tahapan-tahapan itu merupakan suatu proses pembelajaran yang penuh dengan makna.
            Untuk Kabupaten Lampung Barat program ini sudah berjalan selama 3 (tiga) tahun, dan hasilnya dapat kita lihat dengan dibangunnya berbagai fasilitas dan infrastruktur yang memang dibutuhkan oleh masyarakat di Lampung Barat seperti prasarana jalan/onderlagh, pengerasan jalan/rabat beton, pembangunan gedung PAUD, TK, dan SMP, gedung TPA, jembatan beton, prasarana air bersih, Paving block, saluran irigasi, rehab pasar, dan lain sebagainya dimana yang dibangun ini memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.
Jumlah dana yang dialokasikan dalam setiap tahunnya terus mengalami peningkatan seiring dengan frekuensi dan volume pekerjaan yang meningkat pula. 
Dari alokasi dana yang dipergunakan 20% nya merupakan cost sharing dari APBD pemerintah kabupaten. Pada tahun anggaran 2009 jumlah dana yang dialokasikan berjumlah Rp 27,6 milyar lebih, dan pada tahun 2010 mengalami peningkatan yang dialokasikan untuk Kabupaten Lampung Barat berjumlah Rp 45.250.000.000,-, atau mengalami kenaikan sebesar Rp 17.650.000.000,- atau sebesar 39%, dimana cost sharing berjumlah Rp 9.050.000.000,- yang dibangun melalui Naskah Perjanjian Untuk Urusan Bersama (NPUB) antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sementara pada tahun 2011 jumlah dana yang dialokasikan mengalami penurunan menjadi  Rp 41.300.000.000,-
Dengan demikian jelas bahwa Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan  (PNPM-MP) merupakan program peningkatan kapasitas dan kelembagaan masyarakat, sehingga diharapkan dapat menjadi satu pola pengembangan kemampuan dan kapasitas masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan, agar secara bertahap masyarakat mampu membangun diri dan lingkungannya.  Agar pelaksanaan program PNPM-MP ini lebih optimal dan dalam pengawasan yang ketat, maka pemerintah membentuk lembaga yang dinamakan Ruang Belajar Masyarakat (RBM) yang memiliki tujuan penting sebagai bentuk pendekatan pemberdayaan masyarakat yang diharapkan mampu memberikan perubahan di masyarakat, terutama menyangkut cara pandang, kapasitas dan bentuk-bentuk pengorganisasian masyarakat dalam meningkatkan taraf hidup dan kemandiriannya.
Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menjadi satu pengalaman yang berjalan di masyarakat dalam hal partisipasi, inisiatif lokal, pelatihan, pengawasan partisipatif dan advokasi hukum yang merupakan beberapa pola atau bentuk yang dianggap perlu diperkuat dan dikembangkan kedepan.  Sehingga pengawasan dan advokasi hukum masyarakat menjadi bagian penting dalam program ketika akuntabilitas pengelolaan pembangunan berimplikasi langsung terhadap perolehan hak dasar masyarakat.  Kedepan, pemerintah akan terus melaksanakan program ini dengan peningkatan kualitas dan kuantitasnya. Karena penyadaran, peningkatan kapasitas dan pengorganisasian merupakan hakekat kegiatan dari pemberdayaan masyarakat. oleh karenanya, program PNPM-MPD ini sejak awal telah menggunakan pendekatan ini.
Dan keberhasilan program ini sangat ditentukan sejauhmana pendekatan pemberdayaan yang dipakai mampu memberikan perubahan di masyarakat.
Sementara Ruang Belajar Masyarakat (RBM) merupakan suatu kultur atau prilaku belajar yang terorganisir, terstruktur dan sistematis serta terbentuk sebagai hasil pengkondisian ruang bersama yang dilakukan secara terus menerus oleh masyarakat pelaku program itu sendiri melalui kegiatan-kegiatan belajar bersama yang bertujuan untuk meningkatkan/mengembangkan kapasitas pelaku masyarakat yang dikelola secara demokratis, swakelola, terbuka dan bertanggung jawab. Sementara itu, pengelolaan program dan pembangunan haruslah makin efektif (tepat sasaran) dan efisien.  Oleh karenanya keterlibatan masyarakat dalam pengawasan pembangunan dan advokasi hukum diharapkan mampu meningkatkan kualitas ketepatan sasaran dan efisiensi pembangunan.
            Dengan menggunakan model yang mampu memadukan pendekatan pemberdayaan masyarakat dengan inisiatif lokal dalam kaitan pengawasan berbasis masyarakat, advokasi hukum serta kegiatan lain yang relevan diharapkan kemandirian masyarakat akan semakin cepat terwujud.  dan model itu adalah pengembangan Ruang Belajar Masyarakat (RBM). Seiring dengan perubahan sistem yang ada, maka pemerintah dituntut untuk lebih memperhatikan masyarakat miskin dalam bentuk kebijakan, penganggaran dan program pembangunan.  Disinilah keterlibatan perangkat pemerintah dituntut untuk dapat mendorong terpenuhinya pemihakan yang dimaksud.  Oleh karenanya, pemerintah juga melakukan kegiatan pelatihan kader aparatur pemerintah (Setrawan) sebagai bentuk pendekatan pemberdayaan masyarakat yang diharapkan mampu menggerakkan perubahan sikap mental dilingkungan pemerintah dan perubahan tata kepemerintahan yang berpihak pada kepentingan masyarakat, serta mendampingi masyarakat, khususnya dalam manajemen pembangunan partisipatif.
            Apalagi tugas yang diemban oleh Setrawan ini sangat penting dalam mendorong, memberikan informasi, dan memastikan tersosialisasikannya serta tersusunnya program pembangunan partisipatif kepada masyarakat, aparat pekon dan kecamatan. Melalui kegiatan pelatihan Setrawan ini dapat menjadi satu upaya peningkatan dalam hal mediasi, akselerasi, fasilitasi, dinamisasi dan kaderisasi yang merupakan fungsi dari setrawan yang dilatih, sehingga pendampingan dan pengawasan menjadi bagian penting dalam program ketika akuntabilitas pengelolaan pembangunan berimplikasi langsung terhadap perolehan hak dasar masyarakat dari pelaksanaan pembangunan yang dilaksanakan.

Program Pemberdayaan (GMBR) Tahun 2008-2011
            Tujuan dari program GMBR adalah untuk percepatan pengentasan kemiskinan, percepatan pembangunan di Kabupaten Lampung Barat dan menggali potensi serta partisipasi masyarakat pekon/kelurahan.  Disamping itu juga untuk meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat pekon/kelurahan serta merupakan proses pembelajaran demokrasi dalam pembangunan.  Sejak pertama kali dicanangkan, program GMBR ini telah mengalokasikan dana yang cukup besar yang merupakan dana murni APBD Kabupaten Lampung Barat.
            Pada tahun 2008 anggaran dana BLM yang dialokasikan untuk Program Pemberdayaan Masyarakat yang bersumber dari dana APBD Kabupaten Lampung Barat sebesar Rp 4.250.000.000,-.  Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Lampung Barat Nomor B/259/KPTS/III.02/2008 tanggal 15 Agustus 2008, menyebutkan bahwa jumlah pekon/kelurahan terpilih yang mendapatkan alokasi dana BLM APBD Kabupaten Lampung Barat tahun anggaran 2008 sebanyak 97 pekon yang tersebar di 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Lampung Barat.  Sementara swadaya masyarakat sebesar Rp 1.206.934.423,-.
            Sementara pada tahun 2009, alokasi dana stimulant Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) yang bersumber dari APBD kabupaten Lampung Barat sebesar Rp 4.250.000.000,-.  Kegiatan tahun 2009 ini berdasarkan SK Bupati Lampung Barat Nomor B/216/KPTS/III.02/2009 tanggal 12 Juni 2009, menyebutkan bahwa jumlah dana pekon/kelurahan terpilih yang mendapatkan alokasi dana BLM APBD Kabupaten Lampung Barat Tahun Anggaran 2009 sebanyak 87 pekon dan 2 kelurahan yang tersebar di 15 kecamatan yang ada di Kabupaten Lampung Barat, dengan swadaya masyarakat sebesar Rp 944.180.613,-.  Selanjutnya tahun anggaran 2010, dana stimulant Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) yang bersumber dari APBD Kabupaten Lampung Barat mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya dimana hanya sebesar Rp 2.250.000.000,-.  Dan dana tersebut dialokasikan ke 54 pekon yang tersebar di 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Lampung Barat.  Swadaya masyarakat sebesar Rp 386.768.300,-. Program GMBR ini akan dilaksanakan selama 5 (lima) tahun yang dimulai tahun 2011 sampai dengan tahun 2015.
            Kemudian pada tahun 2011 dana yang dialokasikan untuk program GMBR adalah sebesar Rp 4.000.000.000,-, dengan jumlah swadaya sebesar Rp 714.542.250,- dengan jumlah pekon berjumlah 99 pekon yang tersebar di 25 kecamatan yang ada di Kabupaten Lampung Barat.  Jumlah sarana prasarana yang telah dibangun sejak tahun 2008 lalu berjumlah 339 kegiatan dengan rincian jenis kegiatan atau program adalah sebagai berikut : Prasarana Air Bersih (PSAB) 25 buah, irigasi berjumlah 33 buah, drainase 38 buah, PLTMH 11 unit, talud 5, jalan 161, jembatan 55 buah, balai pekon 8 dan pasar pekon sebanyak 3 buah.
           



















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Secara umum program PNPM-MP dan program GMBR ini tidak terlepas dari azaz dari upaya pemberdayaan masyarakat itu sendiri yaitu : kesesuaian dengan masalah, kebutuhan dan kondisi masyarakat serta bermanfaat langsung bagi masyarakat penerima dari program.  Kemudian program ini juga harus memberdayakan segala potensi dan sumber daya setempat baik sumber daya alamnya maupun sumber daya manusianya. 

Saran

Pada setiap tahapan pelaksanaannya harus keterbukaan dan dapat dipertanggung jawabkan baik pengelolaan maupun hasilnya.  Juga terdapat keserasian dan keselarasan serta keterpaduan antara kegiatan yang ada kaitannya, yang dilaksanakan secara berkesinambungan dan berkelanjutan mulai dari proses dan hasil dari setiap kegiatan yang dilaksanakan.  Dan yang terpenting dari program ini adalah partisipasi dari seluruh masyarakat dan pihak-pihak terkait lainnya, sehingga program ini dapat betul-betul dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat.










DAFTAR PUSTAKA

Isbandi Rukminto Adi. 2008. Intervensi Komunitas Pengembangan Masyarakat
Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta : Rajawali

Harry Hikmat.2009.Strategi Pemberdayaan Masyarakat.Bandung: Humaniora
Utama Press




komunikasi kelompok


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Di dalam makalah ini mencakup komunikasi kelompok dan organisasi. Komunikasi kelompok merupakan interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Sedangkan komunikasi organisasi merupakan pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi. Dan masih banyak yang lain yang berhubungan dengan komunikasi kelompok dan organisasi. Maka dari itu di dalam makalah ini membahas lebih mendalam tentang komunikasi kelompok dan organisasi
Kelompok dan organisasi merupakan struktur, yang dapat diinterpretasikan sebagai aturan-aturan dan sumber daya organisasi. Struktur-struktur ini sebagai gantinya, menciptakan sistem sosial di dalam organisasi.
Teori penstrukturan adaptif didasarkan pada pemikiran sederhana bahwa kegiatan manusia merupakan sumber yang menciptakan dan menciptakan kembali lingkungan sosial dimana kita berada. Giddens (1979), “Memandang struktur sosial sebagai pedang bermata dua. Struktur dan aturan yang kita ciptakan membatasi perilaku kita

1.2 Maksud dan Tujuan
Untuk mengetahui konsep dari komunikasi kelompok. Untuk mengetahui tentang apa saja yang terkait dalam komunikasi organisasi. Untuk mengetahui format interaksi komunikasi organisasi. Selain itu juga untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah komunikasi agribisnis




BAB II
TINAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Komunikasi Kelompok
Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Kedua definisi komunikasi kelompok di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu untuk mencapai tujuan kelompok.
Sifat-sifat komunikasi kelompok sebagai berikut:
ü  Kelompok berkomunikasi melalui tatap muka;
ü  Kelompok memiliki sedikit partisipan;
ü  Kelompok bekerja di bawah arahan seseorang pemimpin;
ü  Kelompok membagi tujuan atau sasaran bersama;
ü  Anggota kelompok memiliki pengaruh atas satu sama lain

2.1.1 Prinsip Dasar Komunikasi
Kelompok merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas kita sehari-hari. Kelompok baik yang bersifat primer maupun sekunder, merupakan wahana bagi setiap orang untuk dapat mewujudkan harapan dan keinginannya berbagi informasi dalam hamper semua aspek kehidupan. Ia bias merupakan media untuk mengungkapkan persoalan-persoalan pribadi (keluarga sebagai kelompok primer), ia dapat merupakan sarana meningkatkan pengethuan para anggotanya (kelompok belajar) dan ia bias pula merupakan alat untuk memecahkan persoalan bersama yang dihadapi seluruh anggota (kelompok pemecahan masalah). Jadi, banyak manfaat yang dapat kita petik bila kita ikut terlibat dalam seuatu kelompok yang sesuai dengan rasa ketertarikan (interest) kita. Orang yang memisahkan atau mengisolasi dirinya dengan orang lain adalah orang yang penyendiri, orang yang benci kepada orang lain (misanthrope) atau dapat dikatakan sebagai orang yang antisosial.
Ada empat elemen yang muncul dari definisi yang dikemukakan oleh Adler dan Rodman tersebut, yaitu :
v  Elemen pertama adalah interaksi dalam komunikasi kelompok merupakan faktor yang penting, karena melalui interaksi inilah, kita dapat melihat perbedaan antara kelompok dengan istilah yang disebut dengan coact. Coact adalah sekumpulan orang yang secara serentak terkait dalam aktivitas yang sama namun tanpa komunikasi satu sama lain. Misalnya, mahasiswa yang hanya secara pasif mendengarkan suatu perkuliahan, secara teknis belum dapat disebut sebagai kelompok. Mereka dapat dikatakan sebagai kelompok apabila sudah mulai mempertukarkan pesan dengan dosen atau rekan mahasiswa yang lain.
v  Elemen yang kedua adalah waktu. Sekumpulan orang yang berinteraksi untuk jangka waktu yang singkat, tidak dapat digolongkan sebagai kelompok. Kelompok mempersyaratkan interaksi dalam jangka waktu yang panjang, karena dengan interaksi ini akan dimiliki karakteristik atau ciri yang tidak dipunyai oleh kumpulan yang bersifat sementara.
v  Elemen yang ketiga adalah ukuran atau jumlah partisipan dalam komunikasi kelompk. Tidak ada ukuran yang pasti mengenai jumlah anggota dalam suatu kelompok. Ada yang memberi batas 3-8 orang, 3-15 orang dan 3-20 orang. Untuk mengatasi perbedaan jumlah anggota tersebut, muncul konsep yang dikenal dengan smallness, yaitu kemampuan setiap anggota kelompk untuk dapat mengenal dan memberi reaksi terhadap anggota kelompok lainnya. Dengan smallness ini, kuantitas tidak dipersoalkan sepanjang setiap anggota mampu mengenal dan memberi rekasi pada anggota lain atau setiap anggota mampu melihat dan mendengar anggota yang lain/seperti yang dikemukakan dalam definisi pertama.
v  Elemen terakhir adalah tujuan yang mengandung pengertian bahwa keanggotaan dalam suatu kelompok akan membantu individu yang menjadi anggota kelompok tersebut dapat mewujudkan satu atau lebih tujuannya

2.1.2 Klasifikasi Komunikasi Kelompok dan Karakteristiknya
Telah banyak klasifikasi kelompok yang dilahirkan oleh para ilmuwan sosiologi, namun dalam kesempatan ini kita sampaikan hanya dua klasifikasi kelompok yaitu  :
v  Kelompok primer dan sekunder
            Horton Cooley pada tahun 1909 (dalam Jalaludin Rakhmat, 1994) mengatakan bahwa kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerja sama. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita.
Jalaludin Rakhmat membedakan kelompok ini berdasarkan karakteristik komunikasinya, sebagai berikut:
1.      Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam, artinya menembus kepribadian kita yang paling tersembunyi, menyingkap unsur-unsur backstage (perilaku yang kita tampakkan dalam suasana privat saja). Meluas, artinya sedikit sekali kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.
2.      Komunikasi pada kelompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
3.      Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok primer adalah sebaliknya
4.      Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental.
5.      Komunikasi kelompok primer cenderung informal, sedangkan kelompok sekunder formal.
6.      Kelompok keanggotaan dan kelompok rujukan.

v  Kelompok deskriptif dan kelompok preskriptif
John F. Cragan dan David W. Wright (1980) membagi kelompok menjadi dua: deskriptif dan peskriptif. Kategori deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara alamiah. Kelompok preskriptif, mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok. Cragan dan Wright mengkategorikan enam format kelompok preskriptif, yaitu: diskusi meja bundar, simposium, diskusi panel, forum, kolokium, dan prosedur parlementer.

2.1.3 Fungsi Komunikasin Kelompok
Dalam suatu komunikasi kelompok terdapat fungsi-fungsi komunikasi itu sendiri antara lain :
v  Fungsi pertama dalam kelompok adalah hubungan sosial, dalam arti bagaimana suatu kelompok mampu memelihara dan memantapkan hubungan sosial di antara para anggotanya seperti bagaimana suatu kelompok secara rutin memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk melakukan sktivitas yang informal, santai dan menghibur.
v  Pendidikan adalah fungsi kedua dari kelompok, dalam arti bagaimana sebuah kelompok secara formal maupun informal bekerja unutk mencapai dan mempertukarkan pengetahun. Melalui fungsi pendidikan ini, kebutuhan-kebutuhan dari para anggota kelompok, kelompok itu sendiri bahkan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. Namun demikian, fungsi pendidikan dalam kelompok akan sesuai dengan yang diharapkan atau tidak, bergantung pada tiga faktor, yaitu jumlah informasi baru yang dikontribusikan, jumlah partisipan dalam kelompok serta frekuensi interaksi di antara para anggota kelompok. Fungsi pendidikan ini akan sangat efektif jika setiap anggota kelompk membawa pengetahuan yang berguna bagi kelompoknya. Tanpa pengetahuan baru yang disumbangkan msing-masing anggota, mustahil fungai edukasi ini akan tercapai.
v  Dalam fungsi persuasi, seorang anggota kelompok berupaya mempersuasikan anggota lainnya supaya melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Seseorang yang terlibat usaha-usaha persuasif dalam suatu kelompok, membawa resiko untuk tidak diterima oleh para anggota lainnya. Misalnya, jika usaha-usaha persuasif tersebut terlalu bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok, maka justru orang yang berusaha mempersuasi tersebut akan menciptakan suatu konflik, dengan demikian malah membahayakan kedudukannya dalam kelompok.
v   Fungsi keompok juga dicerminkan dengan kegiatan-kegiatannya untuk memecahkan persoalan dan membuat keputusan-keputusan. Pemecahan masalah (problem solving) berkaitan dengan penemuan alternatif atau solusi yang tidak diketahui sebelumnya; sedangkan pembuatan keputusan (decision making) berhubungan dengan pemilihan antara dua atau lebih solusi. Jadi, pemecahn masalah menghasilkan materi atu bahan untuk pembuatan keputusan.
v   Terapi adalah fungsi kelima dari kelompok. Kelompok terapi memiliki perbedaan dengan kelompok lainnya, karena kelompok terapi tidak memiliki tujuan. Objek dari kelompok terapi adalah membantu setiap individu mencapai perubahan personalnhya. Tentunya, individu tersebut harus berinteraksi dengan anggota kelompok lainnya guna mendapatkan manfaat, namun usaha utamanya adalh membantu dirinya sendiri, bukan membantu kelompok mencapai konsensus. Contoh dari kelompok terapi ini adalah kelompok konsultasi perkawinan, kelompok penderita narkotika, kelompok perokok berat dan sebagainya. Tindak komunikasi dalam kelompok-kelompok terapi dikenal dengan nama pengungkapan ciri (self disclosure). Artinya, dalam suasana yang mendukung, setiap anggota dianjurkan untuk berbicara secara terbuka tentang apa yang menjadi permasalahannya. Jika muncul konflik antar anggota dalam diskusi yang dilakukan, orang yang menjadi pemimpin atau yang memberi terapi yang akan mengaturnya.
Dalam organisasi, komunikasi berfungsi untuk :
Pengaturan dan operasi, yakni untuk kepentingan penyelesaian pekerjaan dan membereskan tugas demi pencapaian tujuan. Inovasi/pembaharuan, untuk kepentingan pembaharuan dan pengubahan tata kerja demi penyesuaian, kelangsungan hidup, dan pengembangan organisasi di tengah lingkungan yang terus berubah. Sosialisasi atau pembinaan, yakni berkaitan dengan anggota sebagai manusia. Khusus dalam upaya motivasi, pengimbalan, dan moral kerja. Sosialisasi berdampak kepada :
-          Harga diri anggota
-          Hubungan interpersonal dalam organisasi
-          Motivasi ; integrasi kepentingan 

2.2 Pengertian Komuniaksi Organisasi
Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005). Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual.
Korelasi antara ilmu komunikasi dengan organisasi terletak pada peninjauannya yang terfokus kepada manusia-manusia yang terlibat dalam mencapai tujuan organisasi itu. Ilmu komunikasi mempertanyakan bentuk komunikasi apa yang berlangsung dalam organisasi, metode dan teknik apa yang dipergunakan, media apa yang dipakai, bagaimana prosesnya, faktor-faktor apa yang menjadi penghambat, dan sebagainya. Jawaban-jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah untuk bahan telaah untuk selanjutnya menyajikan suatu konsepsi komunikasi bagi suatu organisasi tertentu berdasarkan jenis organisasi, sifat organisasi, dan lingkup organisasi dengan memperhitungkan situasi tertentu pada saat komunikasi dilancarkan.

2.2.1 Pendekatan Dalam Komunikasi Organisasi
Kita dapat melakukan pendekatan pada organisasi sekurang-kurangnya melalui empat persepektif: pendekatan manajemen ilmiah atau klasik, pendekatan hubungan antar manusia, pendekatan sistem, dan pendekatan kultural (Goldhaber,1990).
a. Pendekatan ilmiah
Pendekatan ilmiah menganggap bahwa organisasi harus menggunakan metoda-metoda ilmiah untuk meningkatkan produktivitas. Berbagai studi pengendalian secara ilmiah akan memungkinkan manajemen mengidentifikasi cara-cara atau alat untuk meningkatkan produktivitas, dan pada akhirnya akan meningkatkan laba. Dalam pandangannya ini produktivitas pada umumnya menyangkut masalah fisik dan psikologis. Produktivitas dipandang dalam bentuk permintaan phisik akan pekerjaan dan kemampuan psikologis para pekerjanya.
b. Pendekatan hubungan antar manusia
Pendekatan hubungan antarmanusia berkembang sebagai reaksi terhadap perhatian eksklusif faktor-faktor phisik dalam mengukur keberhasilan organisasi. Salah satu asumsi prinsip dari pendekatan hubungan antarmanusia adalah bahwa kenaikan kepuasan kerja akan mengakibatkan kenaikan produktivitas. Seorang karyawan yang bahagia adalah karyawan yang produktif. Oleh karena itu, fungsi manajemen adalah menjaga agar para karyawan terus merasa puas.
c. Pendekatan sistem
Pendekatan sistem mengkombinasikan unsur-unsur terbaik dari pendekatan ilmiah dengan pendekatan hubungan antarmanusia. Pendekaan ini memandang organisasi sebagai suatu sistem dimana semua bagian berinteraksi dan setiap bagian mempengaruhi bagian lainnya. Organisasi dipandang sebagai suatu sistem terbuka-terbuka terhadap informasi baru, responsif terhadap lingkungan, bersifat dinamis dan selalu berubah.
d. Pendekatan kultural
Sebuah pendekatan kontemporer mengenai organisasi menganggap bahwa perusahaan harus dipandang sebagai suatu kesatuan sosial atau kultur (pilotta, Widman, & Jasko, 1988;Putnam & Pacanowsky, 1983). Seperti pada umumnya suatu kelompok atau kultur sosial yang selalu memiliki aturan mengenai misalnya, perilaku peran, kepahlawanan, dan nilai-nilai, maka demikian juga suatu organisasi. Oleh karena itu, pada pendekatan ini organisasi harus meneliti untuk mengidentifikasikan jenis kultur dan norma-norma atau nilai-nilai spesifik yang dianutnya. Tujuan dari analisis ini adalah untuk memungkinkan kita bisa memahami bagaimana organisasi berfungsi dan bagaiama hal itu mempengaruhi dan dipengaruhi oleh para anggotanya (karyawannya) dalam kultur organisasi itu
.
2.2.2 Jaringan Komunikasi Organisasi
Yang dimaksud dengan jaringan disini adalah saluran yang digunakan untuk meneruskan pesan dari satu orang ke orang lain. Jaringan ini dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, kelompok kecil sesuai dengan sumberdaya yang dimilikinya akan mengembangkan pola komunikasi yang menggabungkan beberapa struktur jaringan komunikasi. Jaringan komunikasi ini kemudian merupakan sistem komunikasi umum yang akan digunakan oleh kelompok dalam mengirimkan pesan dari satu orang ke orang lainnya. Kedua, jaringan komunikasi ini bisa dipandang sebagai struktur yang diformalkan yang diciptakan oleh organisasi sebagai sarana komunikasi organisasi.
v  Struktur jaringan komunikasi
a.      Struktur lingkaran
Struktur lingkaran tidak memiliki pemimpin. Semua anggota posisinya sama. Mereka memiliki wewenang atau kekuatan yang sama untuk mempengaruhi kelompok. Setiap anggota bisa berkomunikasi dengan dua anggota lain di sisinya. Struktur roda
b.      Struktur roda
Memiliki pemimpin yang jelas, yaitu yang posisinya di pusa. Orang ini merupakan satu-satunya yang dapat mengirim dan menerima pesan dari semua anggota. Oleh karena itu, jika seorang anggota ingin berkomunikasi dengan anggota lain, maka pesannya harus disampaikan melalui pemimpinnya.
      c. Struktur Y
Struktur Y relatif kurang tersentralisasi dibanding struktur roda, tetapi lebih tersentralisasi dibanding dengan pola lainnya. Pada struktur Y juga terdapat pemimpin yang jelas. Tetapi satu anggota lain berperan sebagai pemimpin kedua. Anggota ini dan mengirimkan dan menerima pesan dari dua orang lainnya. Ketiga anggota lainnya komunikasinya terbatas hanya dengan satu orang lainnya.
      d. Struktur rantai
Struktur rantai sama dengan struktur lingkaran kecuali bahwa para anggota yang paling ujung hanya dapat berkomunikasi dengan satu orang saja. Keadaan terpusat juga terdapat disini. Orang yang berada di posisi tengah lebih berperan sebagai pemimpin daripada mereka yang berada di posisis lain.
       e.  Struktur semua saluran
struktur semua saluran atau pola bintang hampir sama dengan struktur lingkaran dalam arti semua anggota adalah sama dan semuanya juga memiliki kekuatan yang sama untuk mempengaruhi anggota lainnya. Akan tetapi, dalam struktur semua saluran, setiap anggota bisa berkomunikasi dengan setiap anggota lainnya. Pola ini memungkinkan adanya partisipasi anggota secara optimum.

2.2.3 Arus Komunikasi Organisasi
Pembahasan mengenai komunikasi dalam organisasi dalam bentuk arah arus informasinya sangat penting. Komunikasi ke atas dan ke bawah (sering disebut vertikal) dan komunikasi lateral barangkali merupakan yang paling penting. Di samping itu, kita akan melihat pada informasi samar dan juga pada sebab dan akibat adanya kepadatan informasi.
a.      Komunikasi ke atas
Komunikasi ke atas merupakan pesan yang dikirim dari tingkat hirarki yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi-misalnya, para pelaksana ke manajernya, atau dari para dosen ke dekan fakultas. Jenis komunikasi ini biasanya mencakup (1)kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan, (2)masalah yang berkaitan dengan pekerjaan dan pertanyaan yang belum terjawab, (3)berbagai gagasan untuk perubahan dan saran-saran perbaikan; dan (4)perasaan yang berkaitan dengan pekerjaan mengenai organisasi, pekerjaan itu sendiri, pekerjaan lainnya, dan masalah lain yang serupa.
Komunikasi ke atas sangat penting untuk mempertahankan dan bagi pertumbuhan organisasi. Komunikasi itu memberikan manajemen umpan balik yang diperlukan mengenai semangat kerja para karyawannya dan berbagai ketidakpuasan yang mungkin. Komunikasi itu juga membuat bawahan memiliki rasa memiliki dan merasa sebagai bagian dari organisasi. Di samping itu juga memungkinkan manajemen memiliki kesempatan untuk memperoleh berbagai gagasan baru dari para pegawainya.
Masalah tentang komunikasi ke atas Di samping penting bagi organisasi, komunikasi atas itu sulit dikendalikan. Salah satu masalahnya adalah pesan yang mengalir ke atas seringkali merupakan pesan yang perlu di dengar oleh hirarki yang lebih tinggi lagi. Para pekerja seringkali enggan mengirim pesan yang negatif karena merasa khawatir mereka dianggap sebagai biang keladi.
b.      Komunikasi ke bawah
Komunikasi ke bawah merupakan pesan yang dikirim dari tingkat hirarki yang lebih tinggi ke tingkat yang lebih rendah. Sebagai contoh, pesan yang dikirim oleh manajer kepada karyawannya atau dari dekan fakultas kepada para dosennya adalah komunikasi ke bawah. Perintah seringkali merupakan contoh jelas untuk komunikasi ke bawah:”Ketik surat ini rangkap dua,””Kirim barang ini sebelum tengah hari.” Tulis kopi iklan ini,” dan sebagainya.
Masalah tentang komunikasi ke bawah Manajemen dan karyawan seringkali berbicara dengan bahasa yang berbeda. Banyak manajer yang tidak mengetahui bagaimana agar pesan mereka dapatdipahami oleh karyawannya. Misalnya saja, kebanyakan manajer memilki pendidikan yang lebih tinggi dan banyak bahasa teknis mengenai bisnis daipada para karyawannya.
c.       Komunikasi lateral
Komunikasi lateral adalah pesasn antara sesama-manajer ke manajer, karyawan ke karyawan. Pesan semacam ini bisa bergerak di bagian yang sama di dalam organisasi atau mengalir antar bagian. Komunikasi lateral merupakan komunikasi yang terjadi antara dua dosen sejarah di perguruan tinggi yang sama. Juga bisa merupakan komunikasi antara dua dosen psikologi di dua universitas yang berbeda. Masalah pada komunikasi lateral Salah satu masalah yang jelas pada komunikasi lateral adalah bahasa yang khusus yang dikembangkan oleh divisi tertentu di dalam organisasi. Bahasa semacam itu seringkali sulit dipahami oleh penerima pesan. Untuk bisa berkomunikasi dengan psikolog misalnya, maka perlu berbicara dengan bahasa psikologi- untuk mengetahui arti dari beberapa istilah seperti skedul, pemantapan, egoisme, katarsis, STM, dan asosiasi bebas.
d.      Kabar burung
Menurut ahli organisasi, John Baird (1977), meskipun kabar burung merupakan bagian dari komunikasi informal dalam setiap organisasi besar, jenis komunikasi itu jangan digunakan terlalu sering seperti folklore yang sudah biasa kita ketahui. Biasanya kabar burung tidak terjadi pada iklim yang stabil. Perubahan dan ketidakjelasan mendorong timbulnya kabar burung. Bagaimanapun juga tidaklah mengherankan apabila jenis komunikasi ini menghasilkan ketepatan informasi yang tinggi.
e.       Kepadatan informasi
Sekarang ini, dengan kecanggihan teknologi, kepadatan informasi merupakan salah satu masalah kita yang terbesar. Informasi dikembangkan dengan kecepatan tinggi sehingga sulit untuk diikuti semuanya dan dianggap relevan untuk satu jenis pekerjaan tertentu. Dengan kadar yang berbeda-beda setiap orang harus mampu menyeleksi informasi tertentu dan menganggap informasi lain tidak penting. Kepadatan informasi tampaknya sudah menjalar di semua organisasi. Dan sudah barang tentu, inilah penyebab mengapa begitu  banyak organisasi yang mengunakan komputer untuk mengatasinya. Dengan menaruh apa saja ke dalam komputer memang relati mudah dan efisien untuk mengatasi kecepatan informasi. Tetapi cara itu tidak merupakan jawaban untuk semuanya. Beberapa kerja manusia masih diperlukan untuk mengerjakan informasi-sekurang-kurangnya biasanya demikian. Dan dalam kondisi informasi yang terlalu padat, maka kesalahan sudah biasa terjadi, hanya karena seseorang tidak bisa menyediakan waktu yang dibutuhkan untuk segalanya. Semakin kita sibuk, semakin banyak kesalahan yang kita buat. Di samping itu masih banyak lagi penundaan antara pengiriman pesan dengan pelaksanaan tindakan yang diperlukan, dan penundaan itu merupakan hal yang tidak efisien dan menelan biaya bagi organisasi.

2.3 Kekuatan dan Kelemahan KKO
Kelebihan yaitu bahwa proses ini dapat terus berlangsung dan berubah secara konstanartinya komunikasi organisasi bukanlah suatu yang terjadi kemudian berhenti terjadisepanjang waktu. Dengan sifat dinamik tersebut maka komunikasi ini bisa disesuaikandengan kondisi yang berlaku dan bukan merupakan tipe komunikasi yang kaku.Sedangkan kelemahan dari komunikasi kelompok dan organisasi yaitu bagaiamana menyampaikaninformasi keseluruhan bagian organisasi prosesi ini berhubungan dengan aliran informasi.
Organisasi mengandalkan inovasi dan harus mampu menghasilkan informasi.. Guezknow(1965) mengatakan informasi dalam suatu organisasi dapat terjadi tiga bentuk serentak,berurutan, serta dengan cara kombinasi. Sering kali pesan-pesan disebut memo ataumemorendum dikirim kepada sejumlah orang dalam sebuah organisasi. Seperti pertemuanDosen semua Fakultas di suatu Universitas, Rektor memberikan pesan kepada semua dosesnsekaligus. Pengirimiman pesan secara serentak ini dapat menggambarkan ketidakeffektifankomunikasi antara individu karena penyampaian pesan bisa secara tiba – tiba tanpa adanyahubungan komunikasi dulu. Komunikasi organisasi tidak perlu langsung dan sering kaliagak kurang dipengaruhi emosi dan lebih cendrung melibatkan pengaruh antar pribadisebagai kebalikan dari pemusan sasaran organisasi yang rasional (Goloberg dan Larson,1985)

2.4 Kegunaan KKO
Komunikasi organisasi memberikan gambaran suatu  konsep individu, mikro – makro dangabungan serta evaluasi keadaan internal. Dari gambaran tersebut akan menjelaskankeseluruhan tingkat kepuasaan dalam lingkungan komunikasi organisasi (Sudianto, 2008).Kepuasan memiliki makna sebagai suatu konsep yang biasanya berkenaan dengankenyamanan, jadi kepuasan dalam komunikasi berarti seseorang merasa nyaman denganpesan-pesan media dan hubungan dalam organisasi. Kenyamanan memiliki kecendrungan,dalam hal ini kadang-kadang menyebabkan individu lebih menyukai pelaksanaan terbaruuntuk peningkatan individu






BAB III
PEMBAHASAAN

3.1 Fenomena Cooperative farming (CF) di Kediri, Jawa Timur
Cooperative farming dapat diartikan sebagai model pemberdayaan kelompok petanimelalui rekayasa sosial, ekonomi, teknologi, dan nilai tambah. Model CF di Jawa Timur jugamenerapkan keempat rekayasa tersebut. Rekayasa sosial dilakukan dalam bentuk penguatankelembagaan tani, penyuluhan, dan pengembangan SDM. Rekayasa ekonomi dilakukan dalambentuk pengembangan akses permodalan, pengadaan saprodi, dan akses pemasaran. Rekayasateknologi dilakukan melalui kesepakatan antara teknologi anjuran dengan kebiasaan petani.Terakhir, rekayasa nilai tambah dilakukan dengan pengembangan usaha off farm yangterkoordinasi secara vertikal dan horisontal
CF terdiri atas beberapa seksi guna mendukung program CF. Posisi tertinggi ditempatimusyawarah anggota, wahana pengambilan keputusan penting bagi kelangsungan organisasi CF.Posisi kedua ditempati forum komunikasi kelompok yang beranggotakan wakil dari masing-masing subkelompok. Forum komunikasi bertugas mengawasi kebijakan pengurus, memeriksadan menilai pelaksanaan organisasi, dan bertanggung jawab atas hasil pemeriksaan kepadamusyawarah anggota. Selanjutnya posisi ketiga adalah pengelola kelompok, yang terdiri atasmanajer, sekretaris, dan bendahara. Pengelola dipilih dari anggota yang mempunyai kemampuandan memenuhi kriteria fungsi masingmasing jabatan. Fungsi manajer antara lain adalahmengkoordinasikan dan mengendalikan organisasi CF, melaksanakan rencana kegiatan  kelompok, mewakili kepentingan kelompok dengan pihak luar, mengembangkan usahakelompok, dan memberi alternatif pemecahan masalah yang ditemui kelompok CF di lapangan.Seksi-seksi dibentuk sesuai dengan kebutuhan. Terdapat lima seksi dalam kelompok CF di JawaTimur, yaitu pengelolaan air, alsintan, permodalan dan saprodi, produksi, serta pascapanen danpemasaran. Setiap seksi bekerja di bawah koordinasi manajer, melaksanakan fungsinya dalaminternal kelompok maupun bekerja sama dengan pihak luar, misalnya dalam penyusunan rencanadan penyiapan saprodi.
Gambar menunjukkan sinergi kerja antar-stakeholder CF. Lembaga keuangan dari pihak swasta melakukan investasi terhadap penghasil saprodi dalam hal ini Petrokimia untuk pupuk (1)dan Syang Hyang Seri untuk benih (2). Dua pihak swasta penghasil input tersebut menjalinkemitraan dengan CF dalam penyediaan pupuk (3) dan benih (4). Pihak pemerintah dalam hal iniDinas Pertanian bertindak sebagai fasilitator bagi pihak swasta dan kelompok sekaliguskatalisator implementasi kegiatan CF (5). Saprodi dari mitra kerja yang disalurkan melalui pusatkegiatan kelompok, yaitu penggilingan padi (6), digunakan anggota CF untuk berusaha tani (7).Ketika panen, para anggota melakukan pascapanen terpadu (8) di penggilingan padi (9).Apabila kegiatan pascapanen sudah tuntas, produk dipasarkan oleh Dolog sebagai pihak swastamitra pemasaran (10) dengan permodalan dari pinjaman Bank Bukopin (11). Mekanisme di atassecara periodic diawasi dan dievaluasi oleh kelompok maupun mitra kerja. Melalui pengurus,kelompok melaporkan kinerjanya kepada investor untuk melihat kelayakan usaha (12).
Cooperative farming secara langsung telah memberdayakan lembaga tani yang ada, yaitukelompok tani, mengembangkan kualitas SDM melalui penyuluhan tentang pentingnyakemitraan, kesepakatan, dan kebersamaan. Selain itu, kerja sama secara vertical dan horisontaldengan pihak swasta dengan fasilitator pemerintah telah mampu mengurangi caracara koordinasiyang bersifat topdown dan sentralistik. Pola topdown dan sentralistik masih tercermin dalammodel corporate farming. Pada CF, pemerintah memfasilitasi petani melalui pemberdayaansecara bottom-up dan terdesentralisasi, sehingga lebih mengenai sasaran utama yaitumengembangkan kualitas SDM petani. Petani akan secara aktif terlibat dalam setiap kegiatan danmempunyai sense of belonging yang tinggi akan keberhasilan usaha kelompoknya, karenaorganisasi tersebut berasal, dikelola, dan diambil manfaatnya oleh petani sendiri.












BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Komunikasi kelompok mempunyai pengertian sebagai berikut interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Di dalam komunikasi kelompok juga mencakup tentang prinsip, klasifikasi dan karakteristik komunikasinya, fungsi kelompok serta faktor yang mempengaruhi keefektifan kelompok. Sedangkan Komunikasi organisasi mempunyai oengertian sebagai berikut pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi. Serta mencakup pendekatan-pendekatan yang terkait dalam komunikasi organisasi, selain itu terdapat pula jaringan komunikasi dan arus dalam komunikasi. Serta format interaksi komunikasi organisasi terdiri dari komunikasi interpersonal, publik dan komunikasi kelompok kecil.
Peningkatan produksi sebagai dampak positif penerapan teknologi dan input lainnyamuncul berbagai permasalahan yang berkaitan dengan proses pengolahan produk hingga tahappemasaran kepada konsumen. Permasalahan tersebut menekankan keterampilan setiap pelakuindividu dalam prosesnya. Keterampilan individu tercakup dalam setiap aspek pengolahan untuk memproduksi hasil. Salah satu individu yang perlu dijadikan titik perhatian yaitu petani.Petani dalam proses produksi hasil tani membentuk sebuah kelompok yang dikenalsebagai kelompok tani, dari kelompok tersebut membentuk sebuah kelembagaan yang disebutGabungan Kelompok Tani. Tujuan yaitu untuk pola distribusi informasi merata sehinggaterbentuk koordinasi. Dalam kelompok tersebut terdapat perwakilan dari kelompok kecil taniyang dikenal sebagai kontak tani.
Dari lembaga tersebut disalurkan informasi seputar pertanianke masing – masing kontak tani, kemudian dari kontak – kontak tani didistribusikan kepadakelompok tani kecil masing – masing. Proses ini disebut komunikasi kelompok dan organisasi.Salah satu bentuk komunikasi organisasi dan kelompok yang sudah diterapakan yaituCooperative Farming. Bentuk komunikasi ini telah mengefektifkan jalur komunikasi dari petanike pihak – pihak swasta dan negeri untuk kepentingan produktivitas pertanian

4.2 Saran
Semoga dengan ditulisnya makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Serta dapat mengetahui tentang seluk beluk dalam komunikasi kelompok dan komunikasi organisasi.























DAFTAR PUSTAKA

Muhammad, Arni. 1989. KOMUNIKASI ORGANISASI. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Alvin. A Goloberg – Carl El Larson, Komuniasi Kelompok, UI Press jakarta 1985: 10
Guezknow. 1965. Dalam Komunikasi Organisasi Sebagai Mobilitas Sosial.
Diaksesmelaluihttp://www.uinsuska.info/dakwah/attachments/093_10komunikasiorganisasi.pdf.Tanggal akses 11/10/2010.
Goloberg dan Larson, 1985. Dalam Komunikasi Organisasi Sebagai Mobilitas SosiaDiakses melalui http://www.uinsuska.info/dakwah/attachments/093_10komunikasiorganisasi.pdf. Tanggal akses 02/10/2012
Muhammad. 2005. Dalam. Proses Komunikasi Diakses melaluihttp://psdg.bgl.esdm.go.id/makalah/PrOsesKomNew.pdf. Tanggal akses 01/10/2012/ 
Nuryati. 2004. Bagaimana Prospek Cooperative Farming Berbasis Padi – Palawija.
PusatAnalisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor. Diakses 03 http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/wr274053.pdf . Tanggal akses 0/10/2012
Sudianto. 2008. Komunikasi Organisasi Sebagai Mobilitas Sosial. Diakses melaluihttp://www.uinsuska.info/dakwah/attachments/093_10komunikasiorganisasi.pdf. Tanggalakses 02/10/2012.