Jumat, 09 November 2012
uji parametrik dan non parametrik
UJI PARAMETRIK DAN NON PARAMETRIK
Uji Parametrik :
adalah suatu uji yang menghendaki syarat-syarat spesifik mengenai parameter dan populasi darimana cuplikan diambil.
Uji parametrik membutuhkan suatu tingkat pengukuran yang teliti, paling tidak dalam skala interval. Hasil dari suatu uji parametric dapat diterima berdasarkan suatu harga penerimaan (validity).
Uji Nonparametrik :
Adalah suatu uji dengan model yang yang tidak membutuhkan suatu parameter khusus dari populasi yang diamati.
Beberapa asumsi yang berhubungan erat dengan uji statistik nonparametrik adalah bahwa pengamatan tersebut bebas dan variable yang diamati kontinu, tetapi asumsi yang dibuat dalah lebih lemah dan kurang teliti bila dibandingkan dengan uji parametric. Oleh karena itu uji nonparametric tidak membutuhkan tingkat ketilitian yang tinggi seperti uji parametric. Biasanya uji nonparametric dipakai untuk menganalisis data dalam skala ordinal dan nominal.
Keuntungan Uji Statistika Nonparametrik
1. Nilai peluang yang didapat dari uji statistika nonparametric adalah nilai yang pasti ( kecuali untuk cuplikan-cuplikan yang besar, dimana pendekatan sebenarnya mungkin dapat dicapai, tanpa memperhatikan bentuk sebaran populasi dari mana cuplikan diambil. Ketepatan dari nilai peluang tidak tergantung pada bentuk populasinya. Dalam beberapa hal uji nonparametrik dapat mengasumsikan suatu sebaran populasi yang kontinu yaitu asumsi yang dikehendaki dalam uji parametric.
2. Bila jumlah atau ukuran cuplikan sangat kecil ( missal N = 6 ), maka uji Statistika parametric tidak dapat dipakai kecuali bila diketahui dengan pasti sebaran populasinya.
3.
Uji Tanda
Uji Wilcoxon
Uji U
Uji Kruskal
Fungsi
Uji signifikansi beda 2 perlakuan
Uji signifikansi beda (A dan B) &
Besar beda rankingnya
Uji signifikansi beda perlakuan dari cuplikan ganda tidak berpasangan
Uji signifikansi beda perlakuan dari cuplikan lebih dari dua kelompok tidak berpasangan
Sifat Data
Cuplikan Ganda Berpasangan
Cuplikan Ganda Berpasangan
Jika asumsi distribusi normal tidak terpenuhi
Cuplikan Ganda TidakBerpasangan
Cuplikan > 2 Tidak Berpasangan
Asumsi distribusi kontinu
Tdk memperhatikan bentuk sebaran data ≠ sebaran normal
Skala Ukur
Nominal: 2 kategori
Nominal /ordinal
ordinal
ordinal
Hipotesis :
Ho : p(+) = p(-)
p(+) = p(-) = ½
= 0.5
Ho : p(A) = p (B)
Ho : µx = µy
Ho : µ1= µ2= µ3 = … = µt
One-Tail H1 : p(+) > p(-) H1 : p(+) > p(-) H1 : µx>µy
p(+) < p(-) p(+) < p(-) µx<µy
Two-Tail p(+) ≠ p(-) p(+) ≠ p(-) µx≠µy Ho : µ1≠µ2≠µ3≠ … ≠µt
∑ Cuplikan :
C. Kecil Tanda (+) + (-) < 20
Tanda 0 : dihilangkan untuk mengurangi jumlahdatanya
Uji Binomium
Tabel Binomial Probabilities
n≤10
Tanda 0 : dihilangkan untuk mengurangi jumlah datanya
Uji T
Tabel Wilcoxon n ≤ 8
9≤ n ≤ 20 ( cuplikan sedang )
Uji U
C. Besar Tanda (+) + (-) > 20
Uji Pendekatan Sebaran Normal
Tabel Z n≥ 10
Uji Pendekatan Sebaran Normal
Tabel Z n ≥ 20
Keputusan : Terima Ho jika
P hit >α Terima Ho jika
P hit >α
C. Kecil Tolak HoTerima H1
P hit <α
P hit ( p-value ) = 2 ( p tab sampai α )
Tolak HoTerima H1
Jika :
Nilai T hit = T tab
C. Besar Mean µ = 0.5 n
Std Dev = σ
σ=√0.25 n
x - µ
Zhit = -----------
σ
Tolak Ho jika :
Zhit< Ztab (α) or
Zhit> Ztab (α)
Mean : µT=0
Std Dev :
n(n+1)(2n+1)
σT =√-------------
6
T - µT
Zhit = -----------
σT
Tolak Ho jika :
Zhit< Ztab (α) or
Zhit> Ztab (α)
Latihan :
1. 12 customer berpartisipasi untuk mengetahui preferensi customer terhadap kesetiaan terhadap produk cereal gandum impor (Milo) dibandingkan produk baru cereal jagung domestik (Miroso). Dengan taraf nyata α = 0.05 %, lakukanlah uji beda signifikansi preferensi dua brand produk cereal tersebut.
2. Seorang peneliti komunikasi ingin mengetahui kecenderungan ibu-ibu rumah tangga dalam memilih dua macam stasiun TV swasta yang disenanginya untuk direkomendasikan pada sebuah produk rumah tangga yang akan dipromosikan. Untuk kepentingan itu diajukan pertanyaan kepada 50 ibu rumah tangga. Jika ibu-ibu tsb lebih menyenangi RCTI diberi tanda (+) , dan jika memilih Trans TV diberi tanda (-), sedang jika memilih keduanya diberi tanda (0). Hasil penelitian tsb :
25 orang lebih menyukai RCTI
15 orang lebih menyukai Trans TV
10 orang menyukai keduanya
Lakukanlah uji kecenderungan ibu-ibu dalam memilih stasiun swasta tsb.
3. Untuk mengetahui kemampuan pemahaman mengenai teori sosial, mahasiswa program pascasarjana Unpad, antara mahasiswa sosek faperta dan mahasiswa sosiologi fisipol. Untuk itu dipilih secara random 10 pasangan kembar identik kemudian dilakukan test dan hasilnya diberi skor 0 – 100 dr masing2 mahasiswa. Apakah ada perbedaan kemampuan pemahaman teori sosial antara kedua mahasiswa dari fakultas yang berbeda tsb ?
Pasangan Fisipol Faperta di Rank Rank dg tanda
1 82 63
2 69 42
3 73 74
4 43 37
5 81 64
6 68 44
7 73 76
8 43 37
9 80 69
10 60 59
4.
UJI MANN – WHITNEY U
( the Mann-Whitney U Test )
Fungsi
Apabila dalam pengukuran diperoleh data dalam skala ordinal, maka metode Uji Mann-Whitney (U) dapat dipergunakan untuk menguji apakah dua kelompok data yang tidak berpasangan (independent) berasal dari populasi yang sama atau tidak.
Populasi A Populasi B
Ho : a = b
Uji Satu Arah :
H1 : p ( a > b )> ½ , apabila H1 diterima, hal ini menunjukkan bahwa kelompok populasi A lebih besar daripada kelompok populasi B
H1 : p ( b > a )> ½, apabila H1 diterima, hal ini menunjukkan bahwa kelompok populasi B lebih besar daripada kelompok populasi A
Uji Dua Arah :
H1 : p ( a > b ) ≠ ½
Metode
n1 : banyaknya data kelompok tidak berpasangan yang terkecil (cuplikan kecil)
n2 : banyaknya data dari kelompok dengan cuplikan besar
Untuk pengujian menggunakan Uji U, kedua kelompok digabungkan dan dibuat ranking dari nilai terkecil sampai terbesar. Dalam pembuatan rank, tanda-tanda aljabar harus diperhatikan.
Contoh :
Kelompok percobaan ( n1 ) : 3 data
Kelompok control ( n2 ) : 4 data
Data E : 9 11 15
Data C : 6 8 10 13
Untuk mendapatkan nilai U, data tsb dibuat rank gabungan :
6 8 9 10 11 13 15
_______________________________
C C E C E C E
Sekarang diperhatikan kelompok control dan hitung data E yang mendahului tiap-tiap data C.
Jadi nilai U = 0 + 0 + 1 + 2 = 3
Perhitungan nilai U hanya digunakan untuk nilai n1 dan n2 yang lebih kecil dari 8. Jika n1 dan n2 cukup besar maka caranya yaitu memberi nomer rank dari satu sampai N (yang terbesar) dari susunan n1 + n2, maka diperoleh nilai dengan mempergunakan rumus :
n1 ( n1 + 1 )
U = n1 . n2 + ------------------- - R 1
2
atau
N2 ( n2 + 1 )
U = n1 . n2 + ------------------- - R 2
2
Dimana
R1 : Jumlah nilai rank dari kelompok n1
R2 : Jumlah nilai rank dari kelompok n2
Analisis Variansi Klasifikasi Eka Arah Kruskal Wallis
Fungsi
Analisis varians eka arah K-W dengan mempergunakan rank adalah suatu uji yang mempunyai kegunaan ekstrim untuk menentukan apakah k cuplikan bebas berasal dari populasi-populasi yang berbeda.
Teknik uji K-W adalah untuk menguji hipotesis nol yang menyatakan bahwa cuplikan berasal dari populasi yang yang sama atau dari beberapa populasi yang identic dengan memperhatikan rata-ratanya.
Pengujian memerlukan asumsi bahwa perubah adalah menyebar kontinu. Selain itu memerlukan skala pengukuran paling sedikit ordinal dari perubah-perubahnya.
Metode
Langkah-Langkah pengerjaannya :
1. Berikan rank pada seluruh pengamatan dari k cuplikan dalam susunan satu baris dari rank 1 sampai rank N
pemberdayaan masyarakat
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Upaya pemberdayaan
masyarakat dapat dilihat dari sisi keberadaannya sebagai suatu program ataupun
sebagai suatu proses. Pemberdayaan sebagai suatu proses dapat dilihat dari
tahapan-tahapan kegiatan guna mencapai suatu tujuan, yang biasanya telah
ditentukan jangka waktunya. Namun, ada pula yang melihat pemberdayaan sebagai
suatu proses. Sebagai suatu proses pemberdayaan merupakan proses yang
berkesinambungan sepanjang hidup seseorang (on going process).
Proses pemberdayaan
mengandung dua kecenderungan,yaitu kecenderungan primer dan kecenderungan
sekunder. Kecenderungan primer merupakan proses pemberdayaan yang menekankan
pada proses memberikan atau mengalihkan sebagian kekuasaan, kekuatan atau
kemampuan kepada masyarakat agar individu yang bersangkutan menjadi lebih
berdaya. Proses ini dapat dilengkapi dengan upaya membangun asset material guna
mendukung pembangunan kemandirian mereka melalui organisasi.
Kecenderungan sekunder yaitu menekankan pada proses menstimulasi,
mendorong atau memotivasi agar individu mempunyai kemampuan atau keberdayaan
untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya melalui proses dialog
sesungguhnya di antara kedua proses tersebut.
1.2. Tujuan
- Mengetahui pengertian dari
pemberdayaan dalam masyarakat
- Mengetahui kasus pemberdayaan
masyarakat yang terjadi disekitar kita
- Mampu menganalisis studi kasus
mengenai pemberdayaan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Penegertian Pemberdayaan
Menurut Hogan dalam
Rukminto, proses pemberdayaan individu sebagai suatu proses yang relatif terus berjalan
sepanjang usia manusia yang diperoleh dari pengalaman individu tersebut dan
bukannya suatu proses yang berhenti pada suatu masa saja (empowering is not an
end state, but a process that all human experience).
Hogan menggambarkan
proses pemberdayaan yang berkesinambungan sebagai suatu siklus yang terdiri
dari lima tahapan utama, yaitu:
- Menghadirkan kembali pengalaman yang memberdayakan
- Mendiskusikan alasan mengapa terjadi pemberdayaan dan ketidakberdayaan
- Mengidentifikasikan suatu masalah ataupun proyek
- Mengidentifikasikan basis daya yang bermakna untuk melakukan perubahan
- Mengembangkan rencana-rencana aksi dan mengimplementasikannya
Jadi, pemberdayaan ekonomi masyarakat pada
hakikatnya merupakan suatu proses yang dinamis, menuntut adanya dinamika
masyarakat dalam meningkatkan pendapatan per kapita untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari guna mengantisipasi dan mempersiapkan kondisi ekonomi di masa
mendatang.
Sangat beragam definisi pemberdayaan masyarakat yang berkembang hingga saat
ini, salah satunya adalah definisi yang dikemukakan oleh Ife (1995:182), “Providing
people with the resources, opportunities, knowledge and skills to increase their
capacity to determine their own future, and to participate in and affect the
life of their community”. (Menyiapkan kepada masyarakat berupa sumber daya,
kesempatan, pengetahuan dan keahlian untuk meningkatkan kapasitas diri
masyarakat di dalam menentukan masa depan mereka, serta berpartisipasi dan
mempengaruhi kehidupan dalam komunitas masyarakat itu sendiri).
Berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Korten, dalam konteks pekerjaan
sosial, Payne dalam Adi (2003:h.54) mengemukakan bahwa: “Proses
pemberdayaan pada intinya ditujukan guna membantu klien memperoleh daya untuk
mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan dia lakukan yang terkait
dengan diri mereka, termasuk mengurangi efek hambatan pribadi dan sosial dalam
melakukan tindakan. Hal ini dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan rasa
percaya diri untuk menggunakan daya yang dia miliki, antara lain melalui
transfer daya dari lingkungannya”.
Berdasarkan definisi-definisi tersebut diatas, pemberdayaan masyarakat
adalah suatu proses untuk meningkatkan kemampuan atau kapasitas masyarakat
dalam memamfaatkan sumber daya yang dimiliki, baik itu sumber daya manusia
(SDM) maupun sumber daya alam (SDA) yang
tersedia dilingkungannya agar dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Namun
upaya yang dilakukan tidak hanya sebatas untuk meningkatkan kemampuan atau
kapasitas dari masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi juga untuk
membangun jiwa kemandirian masyarakat agar berkembang dan mempunyai motivasi
yang kuat dalam berpartisipasi dalam proses pemberdayaan. Masyarakat dalam hal
ini menjadi pelaku atau pusat proses pemberdayaan. Hal ini juga dikuatkan oleh
pendapat Sumodingrat (2009:7), yang mengemukakan bahwa masyarakat adalah
makhluk hidup yang memiliki relasi sosial maupun ekonomi, maka pemberdayaan
sosial merupakan suatu upaya untuk membangun semangat hidup secara mandiri
dikalangan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup masing-masing secara
bersama-sama.
Dalam upaya pemberdayaan masyarakat perlu adanya suatu strategi yang
nantinya dapat meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat. Salah satu strategi
yang tidak umum dipakai dalam proses pemberdayaan masyarakat adalah
pendampingan. Menurut Sumodiningrat (2009:106), pendampingan merupakan kegiatan
yang diyakini mampu mendorong terjadinya pemberdayaan fakir miskin secara
optimal. Perlunya pendampingan dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan
pemahaman diantara pihak yang memberikan bantuan dengan sasaran penerima
bantuan. Kesenjangan dapat disebabkan oleh berbagai perbedaan dan keterbatasan
kondisi sosial, budaya dan ekonomi. Dalam melaksanakan tugasnya, para
pendamping memposisikan dirinya sebagai perencana, pembimbing, pemberi
informasi, motivator, penghubung, fasilitator, dan sekaligus evaluator.
Sumodiningrat (2009:104-106) lebih dalam menjelaskan bahwa bagi para
pekerja sosial dilapangan, kegiatan pemberdayaan dapat dilakukan melalui
pendampingan sosial. terdapat 5 (lima) kegiatan penting yang dapat dilakukan
dalam melakukan pendampingan sosial, yaitu:
·
Motivasi
Masyarakat khususnya keluarga miskin perlu didorong untuk membentuk
kelompok untuk mempermudah dalam hal pengorganisasian dan melaksanakan kegiatan
pengembangan masyarakat. Kemudian memotivasi mereka agar dapat terlibat dalam
kegiatan pemberdayaan yang nantinya dapat meningkatkan pendapatan mereka dengan
menggunakan kemampuan dan sumber daya yang mereka miliki.
·
Peningkatan Kesadaran dan pelatihan
kemampuan
Disini peningkatan kesadaran masyarakat dapat dicapai melalui pendidikan
dasar, pemasyarakatan imunisasi dan sanitasi, sedangkan untuk masalah
keterampilan bisa dikembangkan melalui cara-cara partisipatif. Sementara
pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat melalui pengalaman mereka dapat
dikombinasikan dengan pengetahuan yang dari luar. Hal-hal seperti ini dapat
membantu masyarakat miskin untuk menciptakan sumber penghidupan mereka sendiri
dan membantu meningkatkan keterampilan dan keahlian mereka sendiri.
·
Manajemen diri
Setiap kelompok harus mampu memilih atau memiliki pemimpin yang nantinya
dapat mengatur kegiatan mereka sendiri seperti melaksanakan pertemuan-pertemuan
atau melakukan pencatatan dan pelaporan. Disini pada tahap awal, pendamping
membantu mereka untuk mengembangkan sebuah sistem. Kemudian memberikan wewenang
kepada mereka untuk melaksanakan dan mengatur sistem tersebut.
·
Mobilisasi sumber
Merupakan sebuah metode untuk menghimpun setiap sumber-sumber yang dimiliki
oleh individu-individu yang dalam masyarakat melalui tabungan dan sumbangan
sukarela dengan tujuan untuk menciptakan modal sosial. hal ini didasari oleh
pandangan bahwa setiap orang memiliki sumber daya yang dapat diberikan dan jika
sumber-sumber ini dihimpun, maka nantinya akan dapat meningkatkan kehidupan
sosial ekonomi masyarakat secara substansial. Pengembangan sistem penghimpunan,
pengalokasian, dan penggunaan sumber-sumber ini perlu dilakukan secara cermat
sehingga semua anggota masyarakat memiliki kesempatan yang sama dan hal ini
dapat menjamin kepemilikan dan pengelolaan secara berkelanjutan.
2.2. Pembangunan dan Pengembangan Jaringan Pemberdayaan
Pengorganisasian kelompok-kelompok swadaya masyarakat perlu disertai dengan
peningkatan kemampuan para anggotanya membangun dan mempertahankan jaringan
dengan berbagai sistem sosial disekitarnya. Jaringan ini sangat penting dalam
menyediakan dan mengembangkan berbagai akses terhadap sumber dan kesempatan
bagi peningkatan keberdayaan masyarakat miskin.
Dalam strategi pemberdayaan masyarakat, upaya yang dilakukan adalah dengan
meningkatkan kemampuan atau kapasitas masyarakat khususnya masyarakat miskin.
Meningkatkan kemampuan dan kapasitas masyarakat ini disebut juga dengan
penguatan kapasitas (capacity building). Penguatan kapasitas ini merupakan
suatu proses dalam pemberdayaan masyarakat dengan meningkatkan atau merubah pola
perilaku individu, organisasi, dan sistem yang ada di masyarakat untuk mencapai
tujuan yang diharapkan secara efektif dan efisien.
Melalui penguatan kapasitas ini, maka masyarakat dapat memahami dan
mengoptimalkan potensi yang mereka miliki untuk mencapai tujuan pemberdayaan,
yaitu kesejahteraan hidup masyarakat. Strategi yang digunakan dalam penguatan
kapasitas ini adalah melalui pendampingan. Jadi, strategi pendampingan sangat
efektif dan efisien dalam proses pemberdayaan masyarakat, karena dengan adanya
pendampingan maka kapasitas masyarakat dapat dikembangkan atau diberdayakan
untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat sehingga pada akhirnya dapat
meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat dan secara tidak langsung dapat
membantu pemerintah dalam mengurangi tingkat kemiskinan.
Untuk memulihkan kondisi
ekonomi yang memburuk akibat munculnya krisis ekonomi, diperlukan upaya yang
kom-prehensif dan efektif sebagaimana yang tercantum dalam program pembangunan
nasional (Propenas) yang menghendaki agar dilaksanakannya pro-gram pemberdayaan
masyarakat untuk memulihkan kondisi ekonomi. Kesenjangan merupakan kenyataan
yang ada dalam pembangunan yang memerlukan pemecahan dengan pemi-hakan dan
pemberdayaan bagi pelaku ekonomi lemah secara nyata (Somoedi-ningrat, 1997).
Oleh karena itu, akan
diusahakan pergeseran dari paradigma pertumbuhan menuju paradigma pembangunan
yang bertumpu pada pemerataan dengan kekuatan ekonomi rakyat, usaha kecil,
usaha menengah dan koperasi dengan memberikan kepada mereka kesempatan yang sama
seperti kesempatan yang diberikan kepada usaha besar.
Konsep pemberdayaan
merupakan paradigma baru dalam pembangunan masyarakat yang melibatkan
masyarakat dalam kegiatan pembangunan baik dalam perencanaan, pelaksanaan
maupun evaluasi.
Priyono (1996) memberikan makna
pemberdayaan masyarakat sebagai upaya menjadikan suasana kemanusiaan yang adil
dan beradab menjadi semakin efektif secara struktural, baikdalam kehidupan
keluarga, masyarakat, negara, regional, internasional maupun dalam bidang
politik, ekonomi, psikologi dan lain-lain. Memberdayakan masyarakat mengandung
makna mengembangkan, memandirikan, menswadayakan dan memperkuat posisi
tawar-menawar masyarakat lapisan bawah terhadap kekuatan penekan di segala
bidang dan sektor kehidupan.
Pemberdayaan masyarakat
harus dipandang sebagai upaya untuk mempercepat dan memperluas upaya
penang-gulangan kemiskinan melalui koordinasi berbagai kebijakan, program dan
kegiatan pembangunan, baik di tingkat pusat maupun daerah sehingga
efektivitasnya me-miliki signifikansi yang besar terhadap penanggulangan
kemiskinan.
2.3. Contoh Kasus dari Pemberdayaan Masyarakat
Studi kasus : Solusi
Percepatan Pembangunan Lampung Barat
Salah satu indikator kemakmuran suatu daerah, dan negara adalah pertumbuhan
ekonominya yang signifikan. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi
diperlukan adanya investasi yang sangat besar dan tenaga kerja yang produktif
dan memiliki kualitas yang tinggi.
Apabila dalam mewujudkan hal tersebut negara yang bersangkutan tidak
mampu, maka solusinya adalah melakukan pinjaman kepada pihak ketiga, sanggup
menyewa tenaga ahli yang memiliki kemampuan yang baik, terutama para tenaga
asing dimana jumlah dan variasinya lebih banyak.
Indonesia sebagai salah satu negara besar dengan jumlah penduduknya yang
besar dan sebagian besar masih mengenyam pendidikan dasar, serta sebagian besar
masih bekerja dibidang pertanian dengan mengolah sawah dan lading secara
tradisional serta melakukan kegiatan industri yang masih dalam proses
pengembangan, sehingga sangatlah mustahil mereka mampu mendorong pertumbuhan
ekonomi yang tinggi seperti yang diharapkan selama ini. Mungkin akan lebih bijaksana dan disenangi
rakyat kalau para pemimpin mulai dari kepala negara sampai pada pejabat daerah
menjanjikan kepada rakyatnya untuk memberikan kesempatan pemberdayaan,
pelatihan ketrampilan yang tepat sasaran, dan penciptaan lapangan kerja serta
yang terpenting adalah kesempatan menjadi magang untuk hidup yang mandiri yang
lebih baik.
Pemberdayaan
tersebut memerlukan proses yang merupakan upaya untuk mendongkrak peningkatan
ketrampilan dan penanaman jiwa inovatif dan kewirausahaan (entrepreneurship)
yang dihantar dengan penciptaan kesempatan dan lapangan pekerjaan yang lebih
luas dan merata bagi masyarakat. Usaha
dan upaya ini harus dilakukan dengan komitmen dan arahan yang tepat dan jelas
untuk mengurangi jumlah angka pengangguran yang ada, baik yang bersifat resmi
maupun tidak resmi, atau semi menganggur. Arah yang pertama mungkin berupa
upaya aparatur pemerintah secara sungguh-sungguh, dan arah kedua berupa
kewajiban setiap anak bangsa untuk berpartisipasi sebagai bekal hidup yang
mandiri tanpa ketergantungan kepada orang lain.
Upaya pemberdayaan dan perluasan kesempatan kerja yang makin merata
tersebut perlu ditentukan target secara serius.
Dengan demikian sebagian besar penduduk yang tingkat pendidikannya
rendah dan berada pada garis dan bahkan dibawah garis kemiskinan wajib ikut
secara sungguh-sungguh.
Pemerintah harus berani, termasuk pemerintah daerah berkata jujur bahwa
pendekatan ini belum meningkatkan pertumbuhan ekonomi di segala sector
pembangunan. Tetapi, itu akan menjamin
setiap masyarakat atau penduduk termasuk penduduk yang berada dibawah garis
kemiskinan akan memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan
pembangunan. Secara bertahap hasil kerja
keras yang dilakukan selama ini akan menghantarkan setiap penduduk untuk bisa
menjamin keluarganya dan dirinya untuk hidup secara mandiri, dimana mereka
tidak perlu merasa terhina karena segala keperluan tidak lagi ditanggung oleh
pemerintah melalui pelayanan secara gratis yang banyak dilakukan di
daerah-daerah, apapun kualitasnya.
Proses pemberdayaan itu perlu dilakukan oleh seluruh aparatur pemerintah
dimanapun melalaui reformasi birokrasi dan juga kelembagaan yang terarah dan
tegas.
Perubahan
sikap dan tingkah laku birokrasi terutama birokratnya diarahkan untuk
benar-benar mengabdi pada hasil yang diukur dari kemampuan, ketrampilan dan
perubahan yang dialami penduduk sebagai objeknya. Ukuran keberhasilan bukan terletak pada
kegiatan aparatur saja, melainkan juga pada hasil akhir dari perubahan penduduk
yang dibantu dalam proses pemberdayaan, yaitu penduduk yang bekerja dan
memperoleh upah atau imbalan yang memadai.
Imbalan yang diberikan tersebut bukan belas kasihan, tetapi hasil kerja
yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan menghasilkan produks yang laku dijual
dipasar dan menguntungkan, sehingga imbalan tersebut mampu memenuhi kebutuhan
hidup dari masyarakat tersebut.
Karena itu reformasi birokrasi yang dilakukan harus merubah cara kerja yang
hanya menunggu tamu, dalam arti rakyat yang membutuhkan pelayanan menjadi
penjemput bola yang siap melayani masyarakat sesuai dengan potensi yang ada di
lapangan, atau menjadikan anggota masyarakat sebagai entrepreneur yang mampu
menjadikan sesuatu yang pantas untuk dijual dan menghasilkan suatu keuntungan
yang tidak ada habisnya. Reformasi yang
dilanjutkan pada masa saat ini tidak hanya berlaku untuk birokrasi, tetapi juga
perlu dilakukan secara dini melalui berbagai lembaga dan salah satunya adalah
lembaga pendidikan.
Indonesia
memiliki persoalan kemiskinan dan pengangguran yang sulit untuk
dipecahkan. Kemiskinan di Indonesia
dapat kita lihat dari tiga pendekatan yaitu kemiskinan alamiah, kemiskinan
struktural, dan kesenjangan antar wilayah.
Persoalan pengangguran lebih dipicu oleh rendahnya kesempatan dan
peluang kerja bagi angkatan kerja di pedesaan.
Upaya untuk menanggulanginya harus menggunakan pendekatan multi disiplin
yang berdimensi pemberdayaan.
Pemberdayaan yang tepat haruslah memadukan aspek-aspek penyadaran,
peningkatan kapasitas dan pendayagunaan.
Berbagai
program selama ini telah digulirkan oleh pemerintah baik pemerintah pusat,
propinsi, maupun program dari pemerintah Kabupaten Lampung Barat sendiri. salah satu program yang digulirkan oleh
pemerintah pusat yang masih dijalankan sampai saat ini adalah Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MP). Sementara program
pemerintah Kabupaten Lampung Barat yang dilaksanakan sejak tahun 2008 lalu
sebagai upaya pemberdayaan masyarakat adalah melalui Program Gerakan Membangun
Bersama Rakyat (GMBR). Kedua program
tersebut memiliki tujuan yang mulia yaitu mensejahterakan masyarakat dengan
memberdayakan masyarakat itu sendiri, dimana mereka yang menentukan kebutuhan
yang memang sangat mendesak di desanya.
Untuk lebih gamblangnya mengenai pelaksanaan kedua program tersebut di
Kabupaten Lampung Barat baik mengenai pelaksanaan, jumlah dana dan partisipasi
masyarakat dapat dikupas satu persatu berikut.
Program PNPM-MP
Mulai tahun 2007 pemerintah Indonesia mencanangkan Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM-MP) Mandiri yang terdiri dari PNPM Mandiri
Perdesaan, PNPM Mandiri Perkotaan, serta PNPM Mandiri wilayah khusus dan desa
tertinggal. PNPM Mandiri Perdesaan
adalah program untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan secara terpadu dan
berkelanjutan. Pendekatan PNPM Mandiri
Perdesaan merupakan pengembangan dan program Pengembangan Kecamatan (PPK), yang
selama ini dinilai berhasil. Beberapa
keberhasilan PPK adalah berupa penyediaan lapangan kerja dan pendapatan bagi
kelompok rakyat miskin , efisiensi dan efektivitas kegiatan, serta berhasil
menumbuhkan kebersamaan dan partisipasi masyarakat.
Visi
PNPM Mandiri Perdesaan adalah tercapainya kesejahteraan dan kemandirian
masyarakat miskin perdesaan.
Kesejahteraan berarti terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat. Kemandirian berarti mampu mengorganisir diri
untuk memobilisir sumber daya yang ada dilingkungannya, serta mengelola sumber
daya tersebut untuk mengatasi masalah kemiskinan. Sementara misi PNPM Mandiri Perdesaan adalah
:
(1) peningkatan
kapasitas masyarakat dan kelembagaannya
(2) pelembagaan sistem
pembangunan partisipatif
(3)
pengefektifan fungsi dan peran pemerintah lokal
(4) peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana
sarana sosial dasar dan ekonomi
masyarakat
5) pengembangan
jaringan kemitraan dalam pembangunan.
Program
PNPM-MP ini lebih menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi, peran serta
masyarakat, pemerataan dan keadilan serta dengan memperhatikan potensi dan
keanekaragaman yang dimiliki oleh daerah.
Karena salah satu aspek yang sangat fundamental dalam pelaksanaan
prinsip-prinsip otonomi daerah adalah upaya pemberdayaan masyarakat, sehingga
masyarakat dapat berperan aktif dalam setiap proses pembangunan daerah. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat
Mandiri Pedesaan (PNPM-MP) merupakan
program peningkatan kapasitas dan kelembagaan masyarakat. sehingga diharapkan
dapat menjadi satu pola pengembangan kemampuan dan kapasitas masyarakat untuk
berperan aktif dalam pembangunan, agar secara bertahap masyarakat mampu
membangun, diri dan lingkungannya.
Selain itu, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan (PNPM-MP)
ini merupakan program sebagai upaya memberdayakan masyarakat pedesaan agar
mampu membangun daerahnya dengan kemampuan dan potensi sumber daya yang
dimiliki.
Terkait dengan hal tersebut, maka pendekatan
pemberdayaan masyarakat merupakan paradigma yang harus kita kembangkan dalam
menyiapkan kapasitas masyarakat dalam pembangunan daerah dalam hal ini
pembangunan daerah Kabupaten Lampung Barat. Selama ini upaya untuk mengatasi
kemiskinan telah kita lakukan dengan berbagai program-program khusus
penanggulangan kemiskinan. Hal ini menunjukkan bahwa upaya penanggulangan
kemiskinan harus terus kita lakukan dengan tidak memisahkan kebersamaannya.
Untuk itu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP)
merupakan program untuk memberdayakan masyarakat pekon melalui peningkatan
kapasitas dan kelembagaan masyarakat, sehingga dengan pola pelaksanaan PNPM-MP
ini sangat diharapkan dapat menjadi salah satu pola pengembangan kemampuan dan
kapasitas masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan.
Pelaksanaan pembangunan daerah
sebagai bagian integral dari pelaksanaan pembangunan nasional tidak terlepas
dari prinsip-prinsip otonomi yang terwujud dengan memberikan kewenangan yang
luas, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah secara proporsional dengan
lebih menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat,
pemerataan dan keadilan serta dengan memperhatikan potensi dan keanekaragaman
yang dimiliki oleh daerah itu sendiri. Untuk
itu salah satu aspek yang sangat fundamental dalam pelaksanaan prinsip-prinsip
otonomi daerah adalah upaya pemberdayaan masyarakat, sehingga masyarakat dapat
berperan aktif dalam setiap proses pembangunan daerah.
Untuk itu Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) merupakan program untuk memberdayakan
masyarakat pekon melalui peningkatan kapasitas dan kelembagaan masyarakat,
sehingga dengan pola pelaksanaan pnpm-mp ini sangat diharapkan dapat menjadi
salah satu pola pengembangan kemampuan dan kapasitas masyarakat untuk berperan
aktif dalam pembangunan agar secara bertahap masyarakat mampu untuk :
·
pemantapan penyelenggaraan pemerintahan
pekon dan pemerintahan kelurahan;
·
pemantapan kelembagaan serta
pengembangan partisipasi dan keswadayaan masyarakat;
·
pemantapan kehidupan sosial budaya
masyarakat;
·
pengembangan kegiatan usaha ekonomi
masyarakat;
·
peningkatan pemanfaatan sumber daya alam
berwawasan lingkungan;
·
peningkatan pendayagunaan teknologi
tepat guna sesuai dengan kebutuhan masyarakat;
Selama ini upaya untuk mengatasi masalah kemiskinan telah kita lakukan
melalui program-program khusus penanggulangan kemiskinan melalui program
pemberdayaan seperti : Gerakan Pembangunan Bersama Rakyat (GMBR), Jaminan
Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas, Jamkesda dan Jaminan Kesehatan Masyarakat
Bersubsidi), subsidi pendidikan bagi siswa SLTA sederajat, dan Progran Nasional
Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MP) ini. Khusus untuk PNPM-MP, tahapan pelaksanaan
PNPM-MP ini memang cukup panjang, namun demikian tentunya hal tersebut tidak
akan menyurutkan langkah kita untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat secara
bersama-sama dan menganggap tahapan-tahapan itu merupakan suatu proses
pembelajaran yang penuh dengan makna.
Untuk Kabupaten Lampung Barat
program ini sudah berjalan selama 3 (tiga) tahun, dan hasilnya dapat kita lihat
dengan dibangunnya berbagai fasilitas dan infrastruktur yang memang dibutuhkan
oleh masyarakat di Lampung Barat seperti prasarana jalan/onderlagh, pengerasan jalan/rabat
beton, pembangunan gedung PAUD, TK, dan SMP, gedung TPA, jembatan beton,
prasarana air bersih, Paving block, saluran irigasi, rehab pasar, dan lain
sebagainya dimana yang dibangun ini memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.
Jumlah dana yang
dialokasikan dalam setiap tahunnya terus mengalami peningkatan seiring dengan
frekuensi dan volume pekerjaan yang meningkat pula.
Dari alokasi dana yang dipergunakan 20% nya merupakan cost sharing dari
APBD pemerintah kabupaten. Pada tahun anggaran 2009 jumlah dana yang
dialokasikan berjumlah Rp 27,6 milyar lebih, dan pada tahun 2010 mengalami
peningkatan yang dialokasikan untuk Kabupaten Lampung Barat berjumlah Rp
45.250.000.000,-, atau mengalami kenaikan sebesar Rp 17.650.000.000,- atau
sebesar 39%, dimana cost sharing berjumlah Rp 9.050.000.000,- yang dibangun
melalui Naskah Perjanjian Untuk Urusan Bersama (NPUB) antara pemerintah pusat
dan pemerintah daerah. Sementara pada tahun 2011 jumlah dana yang dialokasikan
mengalami penurunan menjadi Rp
41.300.000.000,-
Dengan demikian jelas bahwa Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat
Mandiri Pedesaan (PNPM-MP) merupakan
program peningkatan kapasitas dan kelembagaan masyarakat, sehingga diharapkan
dapat menjadi satu pola pengembangan kemampuan dan kapasitas masyarakat untuk
berperan aktif dalam pembangunan, agar secara bertahap masyarakat mampu
membangun diri dan lingkungannya. Agar
pelaksanaan program PNPM-MP ini lebih optimal dan dalam pengawasan yang ketat,
maka pemerintah membentuk lembaga yang dinamakan Ruang Belajar Masyarakat (RBM)
yang memiliki tujuan penting sebagai bentuk pendekatan pemberdayaan masyarakat
yang diharapkan mampu memberikan perubahan di masyarakat, terutama menyangkut
cara pandang, kapasitas dan bentuk-bentuk pengorganisasian masyarakat dalam
meningkatkan taraf hidup dan kemandiriannya.
Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menjadi satu pengalaman yang berjalan
di masyarakat dalam hal partisipasi, inisiatif lokal, pelatihan, pengawasan
partisipatif dan advokasi hukum yang merupakan beberapa pola atau bentuk yang
dianggap perlu diperkuat dan dikembangkan kedepan. Sehingga pengawasan dan advokasi hukum
masyarakat menjadi bagian penting dalam program ketika akuntabilitas
pengelolaan pembangunan berimplikasi langsung terhadap perolehan hak dasar
masyarakat. Kedepan, pemerintah akan
terus melaksanakan program ini dengan peningkatan kualitas dan kuantitasnya.
Karena penyadaran, peningkatan kapasitas dan pengorganisasian merupakan hakekat
kegiatan dari pemberdayaan masyarakat. oleh karenanya, program PNPM-MPD ini
sejak awal telah menggunakan pendekatan ini.
Dan keberhasilan
program ini sangat ditentukan sejauhmana pendekatan pemberdayaan yang dipakai
mampu memberikan perubahan di masyarakat.
Sementara Ruang
Belajar Masyarakat (RBM) merupakan suatu kultur atau prilaku belajar yang
terorganisir, terstruktur dan sistematis serta terbentuk sebagai hasil
pengkondisian ruang bersama yang dilakukan secara terus menerus oleh masyarakat
pelaku program itu sendiri melalui kegiatan-kegiatan belajar bersama yang
bertujuan untuk meningkatkan/mengembangkan kapasitas pelaku masyarakat yang
dikelola secara demokratis, swakelola, terbuka dan bertanggung jawab. Sementara
itu, pengelolaan program dan pembangunan haruslah makin efektif (tepat sasaran)
dan efisien. Oleh karenanya keterlibatan
masyarakat dalam pengawasan pembangunan dan advokasi hukum diharapkan mampu
meningkatkan kualitas ketepatan sasaran dan efisiensi pembangunan.
Dengan
menggunakan model yang mampu memadukan pendekatan pemberdayaan masyarakat dengan
inisiatif lokal dalam kaitan pengawasan berbasis masyarakat, advokasi hukum
serta kegiatan lain yang relevan diharapkan kemandirian masyarakat akan semakin
cepat terwujud. dan model itu adalah
pengembangan Ruang Belajar Masyarakat (RBM). Seiring dengan perubahan sistem
yang ada, maka pemerintah dituntut untuk lebih memperhatikan masyarakat miskin
dalam bentuk kebijakan, penganggaran dan program pembangunan. Disinilah keterlibatan perangkat pemerintah
dituntut untuk dapat mendorong terpenuhinya pemihakan yang dimaksud. Oleh karenanya, pemerintah juga melakukan
kegiatan pelatihan kader aparatur pemerintah (Setrawan) sebagai bentuk
pendekatan pemberdayaan masyarakat yang diharapkan mampu menggerakkan perubahan
sikap mental dilingkungan pemerintah dan perubahan tata kepemerintahan yang
berpihak pada kepentingan masyarakat, serta mendampingi masyarakat, khususnya
dalam manajemen pembangunan partisipatif.
Apalagi tugas yang diemban oleh
Setrawan ini sangat penting dalam mendorong, memberikan informasi, dan
memastikan tersosialisasikannya serta tersusunnya program pembangunan
partisipatif kepada masyarakat, aparat pekon dan kecamatan. Melalui kegiatan
pelatihan Setrawan ini dapat menjadi satu upaya peningkatan dalam hal mediasi,
akselerasi, fasilitasi, dinamisasi dan kaderisasi yang merupakan fungsi dari
setrawan yang dilatih, sehingga pendampingan dan pengawasan menjadi bagian
penting dalam program ketika akuntabilitas pengelolaan pembangunan berimplikasi
langsung terhadap perolehan hak dasar masyarakat dari pelaksanaan pembangunan
yang dilaksanakan.
Program Pemberdayaan (GMBR) Tahun
2008-2011
Tujuan dari program GMBR adalah
untuk percepatan pengentasan kemiskinan, percepatan pembangunan di Kabupaten
Lampung Barat dan menggali potensi serta partisipasi masyarakat
pekon/kelurahan. Disamping itu juga
untuk meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat pekon/kelurahan
serta merupakan proses pembelajaran demokrasi dalam pembangunan. Sejak pertama kali dicanangkan, program GMBR
ini telah mengalokasikan dana yang cukup besar yang merupakan dana murni APBD
Kabupaten Lampung Barat.
Pada
tahun 2008 anggaran dana BLM yang dialokasikan untuk Program Pemberdayaan
Masyarakat yang bersumber dari dana APBD Kabupaten Lampung Barat sebesar Rp
4.250.000.000,-. Berdasarkan Surat
Keputusan Bupati Lampung Barat Nomor B/259/KPTS/III.02/2008 tanggal 15 Agustus
2008, menyebutkan bahwa jumlah pekon/kelurahan terpilih yang mendapatkan
alokasi dana BLM APBD Kabupaten Lampung Barat tahun anggaran 2008 sebanyak 97
pekon yang tersebar di 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Lampung Barat. Sementara swadaya masyarakat sebesar Rp
1.206.934.423,-.
Sementara
pada tahun 2009, alokasi dana stimulant Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) yang
bersumber dari APBD kabupaten Lampung Barat sebesar Rp 4.250.000.000,-. Kegiatan tahun 2009 ini berdasarkan SK Bupati
Lampung Barat Nomor B/216/KPTS/III.02/2009 tanggal 12 Juni 2009, menyebutkan
bahwa jumlah dana pekon/kelurahan terpilih yang mendapatkan alokasi dana BLM
APBD Kabupaten Lampung Barat Tahun Anggaran 2009 sebanyak 87 pekon dan 2
kelurahan yang tersebar di 15 kecamatan yang ada di Kabupaten Lampung Barat,
dengan swadaya masyarakat sebesar Rp 944.180.613,-. Selanjutnya tahun anggaran 2010, dana stimulant
Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) yang bersumber dari APBD Kabupaten Lampung
Barat mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya dimana hanya sebesar Rp
2.250.000.000,-. Dan dana tersebut
dialokasikan ke 54 pekon yang tersebar di 17 kecamatan yang ada di Kabupaten
Lampung Barat. Swadaya masyarakat
sebesar Rp 386.768.300,-. Program GMBR ini akan dilaksanakan selama 5 (lima)
tahun yang dimulai tahun 2011 sampai dengan tahun 2015.
Kemudian pada tahun 2011 dana yang
dialokasikan untuk program GMBR adalah sebesar Rp 4.000.000.000,-, dengan
jumlah swadaya sebesar Rp 714.542.250,- dengan jumlah pekon berjumlah 99 pekon
yang tersebar di 25 kecamatan yang ada di Kabupaten Lampung Barat. Jumlah sarana prasarana yang telah dibangun
sejak tahun 2008 lalu berjumlah 339 kegiatan dengan rincian jenis kegiatan atau
program adalah sebagai berikut : Prasarana Air Bersih (PSAB) 25 buah, irigasi
berjumlah 33 buah, drainase 38 buah, PLTMH 11 unit, talud 5, jalan 161,
jembatan 55 buah, balai pekon 8 dan pasar pekon sebanyak 3 buah.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Secara umum
program PNPM-MP dan program GMBR ini tidak terlepas dari azaz dari upaya
pemberdayaan masyarakat itu sendiri yaitu : kesesuaian dengan masalah,
kebutuhan dan kondisi masyarakat serta bermanfaat langsung bagi masyarakat
penerima dari program. Kemudian program
ini juga harus memberdayakan segala potensi dan sumber daya setempat baik
sumber daya alamnya maupun sumber daya manusianya.
Saran
Pada setiap
tahapan pelaksanaannya harus keterbukaan dan dapat dipertanggung jawabkan baik
pengelolaan maupun hasilnya. Juga
terdapat keserasian dan keselarasan serta keterpaduan antara kegiatan yang ada
kaitannya, yang dilaksanakan secara berkesinambungan dan berkelanjutan mulai
dari proses dan hasil dari setiap kegiatan yang dilaksanakan. Dan yang terpenting dari program ini adalah
partisipasi dari seluruh masyarakat dan pihak-pihak terkait lainnya, sehingga
program ini dapat betul-betul dirasakan manfaatnya secara langsung oleh
masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Isbandi Rukminto Adi. 2008. Intervensi Komunitas Pengembangan Masyarakat
Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta : Rajawali
Harry Hikmat.2009.Strategi Pemberdayaan Masyarakat.Bandung:
Humaniora
Utama Press
http://geniuslaia.blogspot.com/2010/12/pemberdayaan-masyarakat-sebagai-figur.html diakses pada tanggal 30 September
2012 pukul 19:24
http://acakadul.wordpress.com/2010/03/21/pendampingan-sebagai-strategi-pemberdayaan-masyarakat/ diakses pada tanggal 30 September
2012 pukul 18:34
http://lampungbarat.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=2752&Itemid=1 diakses pada tanggal 30 September
2012 pukul 19:45
komunikasi kelompok
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di dalam makalah ini
mencakup komunikasi kelompok dan organisasi. Komunikasi kelompok merupakan
interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang
telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah,
yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi
anggota-anggota yang lain secara tepat. Sedangkan komunikasi organisasi
merupakan pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok
formal maupun informal dari suatu organisasi. Dan masih banyak yang lain yang
berhubungan dengan komunikasi kelompok dan organisasi. Maka dari itu di dalam
makalah ini membahas lebih mendalam tentang komunikasi kelompok dan organisasi
Kelompok dan
organisasi merupakan struktur, yang dapat diinterpretasikan sebagai
aturan-aturan dan sumber daya organisasi. Struktur-struktur ini sebagai
gantinya, menciptakan sistem sosial di dalam organisasi.
Teori
penstrukturan adaptif didasarkan pada pemikiran sederhana bahwa kegiatan
manusia merupakan sumber yang menciptakan dan menciptakan kembali lingkungan
sosial dimana kita berada. Giddens (1979), “Memandang struktur sosial sebagai
pedang bermata dua. Struktur dan aturan yang kita ciptakan membatasi perilaku
kita
1.2 Maksud dan Tujuan
Untuk mengetahui konsep dari
komunikasi kelompok. Untuk mengetahui tentang apa saja yang terkait dalam
komunikasi organisasi. Untuk mengetahui format interaksi komunikasi organisasi.
Selain itu juga untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah komunikasi
agribisnis
BAB II
TINAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Komunikasi Kelompok
Komunikasi kelompok adalah
komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil”
seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984).
Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok
sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan
yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan
masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi
anggota-anggota yang lain secara tepat. Kedua definisi komunikasi kelompok di
atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, dan memiliki
susunan rencana kerja tertentu untuk mencapai tujuan kelompok.
Sifat-sifat komunikasi kelompok sebagai berikut:
ü Kelompok berkomunikasi
melalui tatap muka;
ü Kelompok memiliki sedikit
partisipan;
ü Kelompok bekerja di bawah
arahan seseorang pemimpin;
ü Kelompok membagi tujuan atau
sasaran bersama;
ü Anggota kelompok memiliki
pengaruh atas satu sama lain
2.1.1 Prinsip
Dasar Komunikasi
Kelompok merupakan bagian
yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas kita sehari-hari. Kelompok baik yang
bersifat primer maupun sekunder, merupakan wahana bagi setiap orang untuk dapat
mewujudkan harapan dan keinginannya berbagi informasi dalam hamper semua aspek
kehidupan. Ia bias merupakan media untuk mengungkapkan persoalan-persoalan
pribadi (keluarga sebagai kelompok primer), ia dapat merupakan sarana
meningkatkan pengethuan para anggotanya (kelompok belajar) dan ia bias pula
merupakan alat untuk memecahkan persoalan bersama yang dihadapi seluruh anggota
(kelompok pemecahan masalah). Jadi, banyak manfaat yang dapat kita petik bila
kita ikut terlibat dalam seuatu kelompok yang sesuai dengan rasa ketertarikan
(interest) kita. Orang yang memisahkan atau mengisolasi dirinya dengan orang
lain adalah orang yang penyendiri, orang yang benci kepada orang lain
(misanthrope) atau dapat dikatakan sebagai orang yang antisosial.
Ada empat elemen
yang muncul dari definisi yang dikemukakan oleh Adler dan Rodman tersebut,
yaitu :
v Elemen pertama adalah
interaksi dalam komunikasi kelompok merupakan faktor yang penting, karena
melalui interaksi inilah, kita dapat melihat perbedaan antara kelompok dengan
istilah yang disebut dengan coact. Coact adalah sekumpulan orang yang secara
serentak terkait dalam aktivitas yang sama namun tanpa komunikasi satu sama
lain. Misalnya, mahasiswa yang hanya secara pasif mendengarkan suatu
perkuliahan, secara teknis belum dapat disebut sebagai kelompok. Mereka dapat
dikatakan sebagai kelompok apabila sudah mulai mempertukarkan pesan dengan
dosen atau rekan mahasiswa yang lain.
v Elemen yang kedua adalah
waktu. Sekumpulan orang yang berinteraksi untuk jangka waktu yang singkat,
tidak dapat digolongkan sebagai kelompok. Kelompok mempersyaratkan interaksi
dalam jangka waktu yang panjang, karena dengan interaksi ini akan dimiliki
karakteristik atau ciri yang tidak dipunyai oleh kumpulan yang bersifat
sementara.
v Elemen yang ketiga adalah
ukuran atau jumlah partisipan dalam komunikasi kelompk. Tidak ada ukuran yang
pasti mengenai jumlah anggota dalam suatu kelompok. Ada yang memberi batas 3-8
orang, 3-15 orang dan 3-20 orang. Untuk mengatasi perbedaan jumlah anggota
tersebut, muncul konsep yang dikenal dengan smallness, yaitu kemampuan setiap
anggota kelompk untuk dapat mengenal dan memberi reaksi terhadap anggota
kelompok lainnya. Dengan smallness ini, kuantitas tidak dipersoalkan sepanjang
setiap anggota mampu mengenal dan memberi rekasi pada anggota lain atau setiap
anggota mampu melihat dan mendengar anggota yang lain/seperti yang dikemukakan
dalam definisi pertama.
v Elemen terakhir adalah
tujuan yang mengandung pengertian bahwa keanggotaan dalam suatu kelompok akan
membantu individu yang menjadi anggota kelompok tersebut dapat mewujudkan satu
atau lebih tujuannya
2.1.2 Klasifikasi Komunikasi Kelompok dan Karakteristiknya
Telah banyak
klasifikasi kelompok yang dilahirkan oleh para ilmuwan sosiologi, namun dalam
kesempatan ini kita sampaikan hanya dua klasifikasi kelompok yaitu :
v Kelompok primer dan sekunder
Horton
Cooley pada tahun 1909 (dalam Jalaludin Rakhmat, 1994) mengatakan bahwa
kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan
akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerja sama. Sedangkan
kelompok sekunder adalah kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan tidak
akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita.
Jalaludin Rakhmat membedakan kelompok ini berdasarkan karakteristik komunikasinya, sebagai berikut:
Jalaludin Rakhmat membedakan kelompok ini berdasarkan karakteristik komunikasinya, sebagai berikut:
1.
Kualitas komunikasi pada kelompok primer
bersifat dalam dan meluas. Dalam, artinya menembus kepribadian kita yang paling
tersembunyi, menyingkap unsur-unsur backstage (perilaku yang kita tampakkan
dalam suasana privat saja). Meluas, artinya sedikit sekali kendala yang
menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi
bersifat dangkal dan terbatas.
2.
Komunikasi pada kelompok primer bersifat
personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
3.
Komunikasi kelompok primer lebih menekankan
aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok primer adalah sebaliknya
4.
Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif,
sedangkan kelompok sekunder instrumental.
5.
Komunikasi kelompok primer cenderung informal,
sedangkan kelompok sekunder formal.
6.
Kelompok keanggotaan dan kelompok rujukan.
v Kelompok deskriptif dan kelompok
preskriptif
John F. Cragan
dan David W. Wright (1980) membagi kelompok menjadi dua: deskriptif dan
peskriptif. Kategori deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat
proses pembentukannya secara alamiah. Kelompok preskriptif, mengacu pada
langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan
kelompok. Cragan dan Wright mengkategorikan enam format kelompok preskriptif,
yaitu: diskusi meja bundar, simposium, diskusi panel, forum, kolokium, dan
prosedur parlementer.
2.1.3 Fungsi Komunikasin Kelompok
Dalam suatu komunikasi kelompok
terdapat fungsi-fungsi komunikasi itu sendiri antara lain :
v Fungsi
pertama dalam kelompok adalah hubungan sosial, dalam arti bagaimana suatu
kelompok mampu memelihara dan memantapkan hubungan sosial di antara para
anggotanya seperti bagaimana suatu kelompok secara rutin memberikan kesempatan
kepada anggotanya untuk melakukan sktivitas yang informal, santai dan
menghibur.
v Pendidikan
adalah fungsi kedua dari kelompok, dalam arti bagaimana sebuah kelompok secara
formal maupun informal bekerja unutk mencapai dan mempertukarkan pengetahun.
Melalui fungsi pendidikan ini, kebutuhan-kebutuhan dari para anggota kelompok,
kelompok itu sendiri bahkan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. Namun
demikian, fungsi pendidikan dalam kelompok akan sesuai dengan yang diharapkan
atau tidak, bergantung pada tiga faktor, yaitu jumlah informasi baru yang
dikontribusikan, jumlah partisipan dalam kelompok serta frekuensi interaksi di
antara para anggota kelompok. Fungsi pendidikan ini akan sangat efektif jika
setiap anggota kelompk membawa pengetahuan yang berguna bagi kelompoknya. Tanpa
pengetahuan baru yang disumbangkan msing-masing anggota, mustahil fungai
edukasi ini akan tercapai.
v Dalam
fungsi persuasi, seorang anggota kelompok berupaya mempersuasikan anggota
lainnya supaya melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Seseorang yang terlibat
usaha-usaha persuasif dalam suatu kelompok, membawa resiko untuk tidak diterima
oleh para anggota lainnya. Misalnya, jika usaha-usaha persuasif tersebut
terlalu bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok, maka
justru orang yang berusaha mempersuasi tersebut akan menciptakan suatu konflik,
dengan demikian malah membahayakan kedudukannya dalam kelompok.
v Fungsi keompok juga dicerminkan dengan
kegiatan-kegiatannya untuk memecahkan persoalan dan membuat
keputusan-keputusan. Pemecahan masalah (problem solving) berkaitan dengan
penemuan alternatif atau solusi yang tidak diketahui sebelumnya; sedangkan
pembuatan keputusan (decision making) berhubungan dengan pemilihan antara dua
atau lebih solusi. Jadi, pemecahn masalah menghasilkan materi atu bahan untuk
pembuatan keputusan.
v Terapi adalah fungsi kelima dari kelompok.
Kelompok terapi memiliki perbedaan dengan kelompok lainnya, karena kelompok
terapi tidak memiliki tujuan. Objek dari kelompok terapi adalah membantu setiap
individu mencapai perubahan personalnhya. Tentunya, individu tersebut harus
berinteraksi dengan anggota kelompok lainnya guna mendapatkan manfaat, namun
usaha utamanya adalh membantu dirinya sendiri, bukan membantu kelompok mencapai
konsensus. Contoh dari kelompok terapi ini adalah kelompok konsultasi
perkawinan, kelompok penderita narkotika, kelompok perokok berat dan
sebagainya. Tindak komunikasi dalam kelompok-kelompok terapi dikenal dengan
nama pengungkapan ciri (self disclosure). Artinya, dalam suasana yang
mendukung, setiap anggota dianjurkan untuk berbicara secara terbuka tentang apa
yang menjadi permasalahannya. Jika muncul konflik antar anggota dalam diskusi
yang dilakukan, orang yang menjadi pemimpin atau yang memberi terapi yang akan
mengaturnya.
Dalam organisasi, komunikasi berfungsi untuk :
Pengaturan dan
operasi, yakni untuk kepentingan penyelesaian pekerjaan dan membereskan tugas
demi pencapaian tujuan. Inovasi/pembaharuan, untuk kepentingan pembaharuan dan
pengubahan tata kerja demi penyesuaian, kelangsungan hidup, dan pengembangan
organisasi di tengah lingkungan yang terus berubah. Sosialisasi atau pembinaan,
yakni berkaitan dengan anggota sebagai manusia. Khusus dalam upaya motivasi,
pengimbalan, dan moral kerja. Sosialisasi berdampak kepada :
-
Harga diri anggota
-
Hubungan interpersonal dalam organisasi
-
Motivasi ; integrasi kepentingan
2.2 Pengertian Komuniaksi Organisasi
Komunikasi
organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam
kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005).
Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri
dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di
dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan
dalam organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan
surat-surat resmi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui
secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada
anggotanya secara individual.
Korelasi antara
ilmu komunikasi dengan organisasi terletak pada peninjauannya yang terfokus
kepada manusia-manusia yang terlibat dalam mencapai tujuan organisasi itu. Ilmu
komunikasi mempertanyakan bentuk komunikasi apa yang berlangsung dalam
organisasi, metode dan teknik apa yang dipergunakan, media apa yang dipakai,
bagaimana prosesnya, faktor-faktor apa yang menjadi penghambat, dan sebagainya.
Jawaban-jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah untuk bahan telaah
untuk selanjutnya menyajikan suatu konsepsi komunikasi bagi suatu organisasi tertentu
berdasarkan jenis organisasi, sifat organisasi, dan lingkup organisasi dengan
memperhitungkan situasi tertentu pada saat komunikasi dilancarkan.
2.2.1 Pendekatan Dalam Komunikasi Organisasi
Kita dapat
melakukan pendekatan pada organisasi sekurang-kurangnya melalui empat
persepektif: pendekatan manajemen ilmiah atau klasik, pendekatan hubungan antar
manusia, pendekatan sistem, dan pendekatan kultural (Goldhaber,1990).
a. Pendekatan ilmiah
Pendekatan
ilmiah menganggap bahwa organisasi harus menggunakan metoda-metoda ilmiah untuk
meningkatkan produktivitas. Berbagai studi pengendalian secara ilmiah akan
memungkinkan manajemen mengidentifikasi cara-cara atau alat untuk meningkatkan
produktivitas, dan pada akhirnya akan meningkatkan laba. Dalam pandangannya ini
produktivitas pada umumnya menyangkut masalah fisik dan psikologis.
Produktivitas dipandang dalam bentuk permintaan phisik akan pekerjaan dan
kemampuan psikologis para pekerjanya.
b. Pendekatan hubungan antar manusia
Pendekatan
hubungan antarmanusia berkembang sebagai reaksi terhadap perhatian eksklusif
faktor-faktor phisik dalam mengukur keberhasilan organisasi. Salah satu asumsi
prinsip dari pendekatan hubungan antarmanusia adalah bahwa kenaikan kepuasan
kerja akan mengakibatkan kenaikan produktivitas. Seorang karyawan yang bahagia
adalah karyawan yang produktif. Oleh karena itu, fungsi manajemen adalah
menjaga agar para karyawan terus merasa puas.
c. Pendekatan sistem
Pendekatan
sistem mengkombinasikan unsur-unsur terbaik dari pendekatan ilmiah dengan
pendekatan hubungan antarmanusia. Pendekaan ini memandang organisasi sebagai
suatu sistem dimana semua bagian berinteraksi dan setiap bagian mempengaruhi
bagian lainnya. Organisasi dipandang sebagai suatu sistem terbuka-terbuka
terhadap informasi baru, responsif terhadap lingkungan, bersifat dinamis dan
selalu berubah.
d. Pendekatan kultural
Sebuah
pendekatan kontemporer mengenai organisasi menganggap bahwa perusahaan harus
dipandang sebagai suatu kesatuan sosial atau kultur (pilotta, Widman, &
Jasko, 1988;Putnam & Pacanowsky, 1983). Seperti pada umumnya suatu kelompok
atau kultur sosial yang selalu memiliki aturan mengenai misalnya, perilaku
peran, kepahlawanan, dan nilai-nilai, maka demikian juga suatu organisasi. Oleh
karena itu, pada pendekatan ini organisasi harus meneliti untuk
mengidentifikasikan jenis kultur dan norma-norma atau nilai-nilai spesifik yang
dianutnya. Tujuan dari analisis ini adalah untuk memungkinkan kita bisa
memahami bagaimana organisasi berfungsi dan bagaiama hal itu mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh para anggotanya (karyawannya) dalam kultur organisasi itu
.
2.2.2 Jaringan Komunikasi Organisasi
Yang dimaksud
dengan jaringan disini adalah saluran yang digunakan untuk meneruskan pesan
dari satu orang ke orang lain. Jaringan ini dapat dilihat dari dua perspektif.
Pertama, kelompok kecil sesuai dengan sumberdaya yang dimilikinya akan
mengembangkan pola komunikasi yang menggabungkan beberapa struktur jaringan
komunikasi. Jaringan komunikasi ini kemudian merupakan sistem komunikasi umum
yang akan digunakan oleh kelompok dalam mengirimkan pesan dari satu orang ke
orang lainnya. Kedua, jaringan komunikasi ini bisa dipandang sebagai struktur
yang diformalkan yang diciptakan oleh organisasi sebagai sarana komunikasi
organisasi.
v
Struktur
jaringan komunikasi
a.
Struktur
lingkaran
Struktur
lingkaran tidak memiliki pemimpin. Semua anggota posisinya sama. Mereka
memiliki wewenang atau kekuatan yang sama untuk mempengaruhi kelompok. Setiap
anggota bisa berkomunikasi dengan dua anggota lain di sisinya. Struktur roda
b.
Struktur
roda
Memiliki
pemimpin yang jelas, yaitu yang posisinya di pusa. Orang ini merupakan
satu-satunya yang dapat mengirim dan menerima pesan dari semua anggota. Oleh
karena itu, jika seorang anggota ingin berkomunikasi dengan anggota lain, maka
pesannya harus disampaikan melalui pemimpinnya.
c. Struktur Y
c. Struktur Y
Struktur Y
relatif kurang tersentralisasi dibanding struktur roda, tetapi lebih
tersentralisasi dibanding dengan pola lainnya. Pada struktur Y juga terdapat
pemimpin yang jelas. Tetapi satu anggota lain berperan sebagai pemimpin kedua.
Anggota ini dan mengirimkan dan menerima pesan dari dua orang lainnya. Ketiga
anggota lainnya komunikasinya terbatas hanya dengan satu orang lainnya.
d. Struktur rantai
d. Struktur rantai
Struktur rantai
sama dengan struktur lingkaran kecuali bahwa para anggota yang paling ujung
hanya dapat berkomunikasi dengan satu orang saja. Keadaan terpusat juga
terdapat disini. Orang yang berada di posisi tengah lebih berperan sebagai
pemimpin daripada mereka yang berada di posisis lain.
e. Struktur semua saluran
e. Struktur semua saluran
struktur semua
saluran atau pola bintang hampir sama dengan struktur lingkaran dalam arti
semua anggota adalah sama dan semuanya juga memiliki kekuatan yang sama untuk
mempengaruhi anggota lainnya. Akan tetapi, dalam struktur semua saluran, setiap
anggota bisa berkomunikasi dengan setiap anggota lainnya. Pola ini memungkinkan
adanya partisipasi anggota secara optimum.
2.2.3 Arus Komunikasi Organisasi
Pembahasan
mengenai komunikasi dalam organisasi dalam bentuk arah arus informasinya sangat
penting. Komunikasi ke atas dan ke bawah (sering disebut vertikal) dan
komunikasi lateral barangkali merupakan yang paling penting. Di samping itu,
kita akan melihat pada informasi samar dan juga pada sebab dan akibat adanya
kepadatan informasi.
a.
Komunikasi
ke atas
Komunikasi ke
atas merupakan pesan yang dikirim dari tingkat hirarki yang lebih rendah ke
tingkat yang lebih tinggi-misalnya, para pelaksana ke manajernya, atau dari
para dosen ke dekan fakultas. Jenis komunikasi ini biasanya mencakup
(1)kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan, (2)masalah yang berkaitan dengan
pekerjaan dan pertanyaan yang belum terjawab, (3)berbagai gagasan untuk
perubahan dan saran-saran perbaikan; dan (4)perasaan yang berkaitan dengan
pekerjaan mengenai organisasi, pekerjaan itu sendiri, pekerjaan lainnya, dan
masalah lain yang serupa.
Komunikasi ke
atas sangat penting untuk mempertahankan dan bagi pertumbuhan organisasi.
Komunikasi itu memberikan manajemen umpan balik yang diperlukan mengenai semangat
kerja para karyawannya dan berbagai ketidakpuasan yang mungkin. Komunikasi itu
juga membuat bawahan memiliki rasa memiliki dan merasa sebagai bagian dari
organisasi. Di samping itu juga memungkinkan manajemen memiliki kesempatan
untuk memperoleh berbagai gagasan baru dari para pegawainya.
Masalah tentang
komunikasi ke atas Di samping penting bagi organisasi, komunikasi atas itu
sulit dikendalikan. Salah satu masalahnya adalah pesan yang mengalir ke atas
seringkali merupakan pesan yang perlu di dengar oleh hirarki yang lebih tinggi
lagi. Para pekerja seringkali enggan mengirim pesan yang negatif karena merasa
khawatir mereka dianggap sebagai biang keladi.
b.
Komunikasi
ke bawah
Komunikasi ke
bawah merupakan pesan yang dikirim dari tingkat hirarki yang lebih tinggi ke
tingkat yang lebih rendah. Sebagai contoh, pesan yang dikirim oleh manajer
kepada karyawannya atau dari dekan fakultas kepada para dosennya adalah
komunikasi ke bawah. Perintah seringkali merupakan contoh jelas untuk
komunikasi ke bawah:”Ketik surat ini rangkap dua,””Kirim barang ini sebelum
tengah hari.” Tulis kopi iklan ini,” dan sebagainya.
Masalah tentang komunikasi ke bawah
Manajemen dan karyawan seringkali berbicara dengan bahasa yang berbeda. Banyak
manajer yang tidak mengetahui bagaimana agar pesan mereka dapatdipahami oleh
karyawannya. Misalnya saja, kebanyakan manajer memilki pendidikan yang lebih
tinggi dan banyak bahasa teknis mengenai bisnis daipada para karyawannya.
c.
Komunikasi
lateral
Komunikasi
lateral adalah pesasn antara sesama-manajer ke manajer, karyawan ke karyawan.
Pesan semacam ini bisa bergerak di bagian yang sama di dalam organisasi atau
mengalir antar bagian. Komunikasi lateral merupakan komunikasi yang terjadi
antara dua dosen sejarah di perguruan tinggi yang sama. Juga bisa merupakan
komunikasi antara dua dosen psikologi di dua universitas yang berbeda. Masalah
pada komunikasi lateral Salah satu masalah yang jelas pada komunikasi lateral
adalah bahasa yang khusus yang dikembangkan oleh divisi tertentu di dalam
organisasi. Bahasa semacam itu seringkali sulit dipahami oleh penerima pesan.
Untuk bisa berkomunikasi dengan psikolog misalnya, maka perlu berbicara dengan
bahasa psikologi- untuk mengetahui arti dari beberapa istilah seperti skedul,
pemantapan, egoisme, katarsis, STM, dan asosiasi bebas.
d.
Kabar
burung
Menurut ahli
organisasi, John Baird (1977), meskipun kabar burung merupakan bagian dari
komunikasi informal dalam setiap organisasi besar, jenis komunikasi itu jangan
digunakan terlalu sering seperti folklore yang sudah biasa kita ketahui.
Biasanya kabar burung tidak terjadi pada iklim yang stabil. Perubahan dan
ketidakjelasan mendorong timbulnya kabar burung. Bagaimanapun juga tidaklah
mengherankan apabila jenis komunikasi ini menghasilkan ketepatan informasi yang
tinggi.
e.
Kepadatan
informasi
Sekarang ini,
dengan kecanggihan teknologi, kepadatan informasi merupakan salah satu masalah
kita yang terbesar. Informasi dikembangkan dengan kecepatan tinggi sehingga
sulit untuk diikuti semuanya dan dianggap relevan untuk satu jenis pekerjaan
tertentu. Dengan kadar yang berbeda-beda setiap orang harus mampu menyeleksi
informasi tertentu dan menganggap informasi lain tidak penting. Kepadatan
informasi tampaknya sudah menjalar di semua organisasi. Dan sudah barang tentu,
inilah penyebab mengapa begitu banyak
organisasi yang mengunakan komputer untuk mengatasinya. Dengan menaruh apa saja
ke dalam komputer memang relati mudah dan efisien untuk mengatasi kecepatan
informasi. Tetapi cara itu tidak merupakan jawaban untuk semuanya. Beberapa
kerja manusia masih diperlukan untuk mengerjakan informasi-sekurang-kurangnya
biasanya demikian. Dan dalam kondisi informasi yang terlalu padat, maka
kesalahan sudah biasa terjadi, hanya karena seseorang tidak bisa menyediakan
waktu yang dibutuhkan untuk segalanya. Semakin kita sibuk, semakin banyak
kesalahan yang kita buat. Di samping itu masih banyak lagi penundaan antara
pengiriman pesan dengan pelaksanaan tindakan yang diperlukan, dan penundaan itu
merupakan hal yang tidak efisien dan menelan biaya bagi organisasi.
2.3 Kekuatan dan Kelemahan KKO
Kelebihan yaitu
bahwa proses ini dapat terus berlangsung dan berubah secara konstanartinya
komunikasi organisasi bukanlah suatu yang terjadi kemudian berhenti
terjadisepanjang waktu. Dengan sifat dinamik tersebut maka komunikasi ini bisa
disesuaikandengan kondisi yang berlaku dan bukan merupakan tipe komunikasi yang
kaku.Sedangkan kelemahan dari komunikasi kelompok dan organisasi yaitu
bagaiamana menyampaikaninformasi keseluruhan bagian organisasi prosesi ini berhubungan
dengan aliran informasi.
Organisasi
mengandalkan inovasi dan harus mampu menghasilkan informasi.. Guezknow(1965)
mengatakan informasi dalam suatu organisasi dapat terjadi tiga bentuk
serentak,berurutan, serta dengan cara kombinasi. Sering kali pesan-pesan
disebut memo ataumemorendum dikirim kepada sejumlah orang dalam sebuah
organisasi. Seperti pertemuanDosen semua Fakultas di suatu Universitas, Rektor
memberikan pesan kepada semua dosesnsekaligus. Pengirimiman pesan secara
serentak ini dapat menggambarkan ketidakeffektifankomunikasi antara individu
karena penyampaian pesan bisa secara tiba – tiba tanpa adanyahubungan
komunikasi dulu. Komunikasi organisasi tidak perlu langsung dan sering kaliagak
kurang dipengaruhi emosi dan lebih cendrung melibatkan pengaruh antar
pribadisebagai kebalikan dari pemusan sasaran organisasi yang rasional
(Goloberg dan Larson,1985)
2.4 Kegunaan KKO
Komunikasi
organisasi memberikan gambaran suatu konsep
individu, mikro – makro dangabungan serta evaluasi keadaan internal. Dari
gambaran tersebut akan menjelaskankeseluruhan tingkat kepuasaan dalam
lingkungan komunikasi organisasi (Sudianto, 2008).Kepuasan memiliki makna
sebagai suatu konsep yang biasanya berkenaan dengankenyamanan, jadi kepuasan
dalam komunikasi berarti seseorang merasa nyaman denganpesan-pesan media dan
hubungan dalam organisasi. Kenyamanan memiliki kecendrungan,dalam hal ini
kadang-kadang menyebabkan individu lebih menyukai pelaksanaan terbaruuntuk
peningkatan individu
BAB III
PEMBAHASAAN
PEMBAHASAAN
3.1 Fenomena Cooperative farming (CF) di Kediri, Jawa Timur
Cooperative
farming dapat diartikan sebagai model pemberdayaan kelompok petanimelalui
rekayasa sosial, ekonomi, teknologi, dan nilai tambah. Model CF di Jawa Timur
jugamenerapkan keempat rekayasa tersebut. Rekayasa sosial dilakukan dalam
bentuk penguatankelembagaan tani, penyuluhan, dan pengembangan SDM. Rekayasa
ekonomi dilakukan dalambentuk pengembangan akses permodalan, pengadaan saprodi,
dan akses pemasaran. Rekayasateknologi dilakukan melalui kesepakatan antara
teknologi anjuran dengan kebiasaan petani.Terakhir, rekayasa nilai tambah
dilakukan dengan pengembangan usaha off farm yangterkoordinasi secara vertikal
dan horisontal
CF terdiri atas
beberapa seksi guna mendukung program CF. Posisi tertinggi ditempatimusyawarah
anggota, wahana pengambilan keputusan penting bagi kelangsungan organisasi
CF.Posisi kedua ditempati forum komunikasi kelompok yang beranggotakan wakil
dari masing-masing subkelompok. Forum komunikasi bertugas mengawasi kebijakan
pengurus, memeriksadan menilai pelaksanaan organisasi, dan bertanggung jawab
atas hasil pemeriksaan kepadamusyawarah anggota. Selanjutnya posisi ketiga
adalah pengelola kelompok, yang terdiri atasmanajer, sekretaris, dan bendahara.
Pengelola dipilih dari anggota yang mempunyai kemampuandan memenuhi kriteria
fungsi masingmasing jabatan. Fungsi manajer antara lain adalahmengkoordinasikan
dan mengendalikan organisasi CF, melaksanakan rencana kegiatan kelompok,
mewakili kepentingan kelompok dengan pihak luar, mengembangkan usahakelompok,
dan memberi alternatif pemecahan masalah yang ditemui kelompok CF di
lapangan.Seksi-seksi dibentuk sesuai dengan kebutuhan. Terdapat lima seksi
dalam kelompok CF di JawaTimur, yaitu pengelolaan air, alsintan, permodalan dan
saprodi, produksi, serta pascapanen danpemasaran. Setiap seksi bekerja di bawah
koordinasi manajer, melaksanakan fungsinya dalaminternal kelompok maupun
bekerja sama dengan pihak luar, misalnya dalam penyusunan rencanadan penyiapan
saprodi.
Gambar menunjukkan sinergi
kerja antar-stakeholder CF. Lembaga keuangan
dari pihak swasta melakukan investasi terhadap penghasil saprodi
dalam hal ini Petrokimia untuk pupuk (1)dan Syang Hyang Seri untuk benih (2).
Dua pihak swasta penghasil input tersebut menjalinkemitraan dengan CF dalam
penyediaan pupuk (3) dan benih (4). Pihak pemerintah dalam hal iniDinas
Pertanian bertindak sebagai fasilitator bagi pihak swasta dan kelompok
sekaliguskatalisator implementasi kegiatan CF (5). Saprodi dari mitra kerja
yang disalurkan melalui pusatkegiatan kelompok, yaitu penggilingan padi (6),
digunakan anggota CF untuk berusaha tani (7).Ketika panen, para anggota
melakukan pascapanen terpadu (8) di penggilingan padi (9).Apabila kegiatan
pascapanen sudah tuntas, produk dipasarkan oleh Dolog sebagai pihak swastamitra
pemasaran (10) dengan permodalan dari pinjaman Bank Bukopin (11). Mekanisme di
atassecara periodic diawasi dan dievaluasi oleh kelompok maupun mitra kerja.
Melalui pengurus,kelompok melaporkan kinerjanya kepada investor untuk melihat
kelayakan usaha (12).
Cooperative
farming secara langsung telah memberdayakan lembaga tani yang ada,
yaitukelompok tani, mengembangkan kualitas SDM melalui penyuluhan tentang
pentingnyakemitraan, kesepakatan, dan kebersamaan. Selain itu, kerja sama secara
vertical dan horisontaldengan pihak swasta dengan fasilitator pemerintah telah
mampu mengurangi caracara koordinasiyang bersifat topdown dan sentralistik.
Pola topdown dan sentralistik masih tercermin dalammodel corporate farming.
Pada CF, pemerintah memfasilitasi petani melalui pemberdayaansecara bottom-up
dan terdesentralisasi, sehingga lebih mengenai sasaran utama yaitumengembangkan
kualitas SDM petani. Petani akan secara aktif terlibat dalam setiap kegiatan
danmempunyai sense of belonging yang tinggi akan keberhasilan usaha
kelompoknya, karenaorganisasi tersebut berasal, dikelola, dan diambil
manfaatnya oleh petani sendiri.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Komunikasi
kelompok mempunyai pengertian sebagai berikut interaksi secara tatap muka
antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti
berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana
anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang
lain secara tepat. Di dalam komunikasi kelompok juga mencakup tentang prinsip,
klasifikasi dan karakteristik komunikasinya, fungsi kelompok serta faktor yang
mempengaruhi keefektifan kelompok. Sedangkan Komunikasi organisasi mempunyai
oengertian sebagai berikut pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi
di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi. Serta mencakup
pendekatan-pendekatan yang terkait dalam komunikasi organisasi, selain itu
terdapat pula jaringan komunikasi dan arus dalam komunikasi. Serta format interaksi
komunikasi organisasi terdiri dari komunikasi interpersonal, publik dan
komunikasi kelompok kecil.
Peningkatan
produksi sebagai dampak positif penerapan teknologi dan input lainnyamuncul
berbagai permasalahan yang berkaitan dengan proses pengolahan produk hingga
tahappemasaran kepada konsumen. Permasalahan tersebut menekankan keterampilan
setiap pelakuindividu dalam prosesnya. Keterampilan individu tercakup dalam
setiap aspek pengolahan untuk memproduksi hasil. Salah satu individu yang
perlu dijadikan titik perhatian yaitu petani.Petani dalam proses produksi hasil
tani membentuk sebuah kelompok yang dikenalsebagai kelompok tani, dari kelompok
tersebut membentuk sebuah kelembagaan yang disebutGabungan Kelompok Tani.
Tujuan yaitu untuk pola distribusi informasi merata sehinggaterbentuk
koordinasi. Dalam kelompok tersebut terdapat perwakilan dari kelompok kecil
taniyang dikenal sebagai kontak tani.
Dari lembaga
tersebut disalurkan informasi seputar pertanianke masing – masing kontak tani,
kemudian dari kontak – kontak tani didistribusikan kepadakelompok tani kecil
masing – masing. Proses ini disebut komunikasi kelompok dan organisasi.Salah
satu bentuk komunikasi organisasi dan kelompok yang sudah diterapakan
yaituCooperative Farming. Bentuk komunikasi ini telah mengefektifkan jalur
komunikasi dari petanike pihak – pihak swasta dan negeri untuk kepentingan
produktivitas pertanian
4.2 Saran
Semoga dengan
ditulisnya makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Serta dapat mengetahui
tentang seluk beluk dalam komunikasi kelompok dan komunikasi organisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad, Arni. 1989. KOMUNIKASI ORGANISASI. Jakarta : Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Alvin. A Goloberg – Carl El Larson, Komuniasi Kelompok, UI Press jakarta
1985: 10
Guezknow. 1965. Dalam Komunikasi
Organisasi Sebagai Mobilitas Sosial.
Diaksesmelaluihttp://www.uinsuska.info/dakwah/attachments/093_10komunikasiorganisasi.pdf.Tanggal
akses 11/10/2010.
Goloberg dan Larson, 1985. Dalam Komunikasi Organisasi Sebagai Mobilitas
SosiaDiakses melalui http://www.uinsuska.info/dakwah/attachments/093_10komunikasiorganisasi.pdf. Tanggal akses 02/10/2012
Muhammad. 2005. Dalam. Proses Komunikasi Diakses
melaluihttp://psdg.bgl.esdm.go.id/makalah/PrOsesKomNew.pdf. Tanggal akses
01/10/2012/
Nuryati. 2004. Bagaimana Prospek Cooperative Farming Berbasis Padi –
Palawija.
PusatAnalisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor. Diakses 03 http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/wr274053.pdf .
Tanggal akses 0/10/2012
Sudianto. 2008. Komunikasi Organisasi Sebagai Mobilitas Sosial. Diakses melaluihttp://www.uinsuska.info/dakwah/attachments/093_10komunikasiorganisasi.pdf.
Tanggalakses 02/10/2012.
Langganan:
Postingan (Atom)